Tampilkan postingan dengan label Samosir. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Samosir. Tampilkan semua postingan

Sebelas Hari Bersama Perempuan-Perempuan Hebat dari Eropa Timur Eksplor Sumatra

     

NINNA-Malam 4 Mei 2026, Bandara Kualanamu masih sibuk dan penuh suara orang berlalu-lalang. Aku berdiri menunggu tiga tamu spesial dari Slovakia dan Republik Czech. Tak lama kemudian, muncul tiga perempuan dengan koper besar dan wajah lelah setelah perjalanan panjang: Maria, Pavla, dan Hana.

Kami langsung berfoto bersama. Foto pertama dari perjalanan sebelas hari yang nantinya dipenuhi cerita, tawa, dan banyak kejutan kecil.

[caption id="attachment_37297" align="alignnone" width="1280"]DAMAYANTI_AIRPORT_PICK_UP Menjemput Maria, Pavla, dan Hana di Bandara Kualanamu bukan sekadar awal perjalanan, tapi awal dari sebelas hari cerita, tawa, dan persahabatan baru yang tumbuh di Sumatra. (foto ©Damayanti)[/caption]

Malam itu kami menuju hotel di Kota Medan. Awalnya suasana di mobil sedikit canggung, seperti orang-orang yang baru saling mengenal. Tetapi Maria mulai banyak bertanya, lalu percakapan mengalir begitu saja. Saat itu aku mulai merasa, perjalanan ini pasti akan menyenangkan.

Keesokan paginya kami memulai petualangan di Kota Medan. Kami mengunjungi Masjid Raya Al Mashun dan Istana Maimun. Saat tiba di masjid, ternyata sedang ada doa bersama dalam jumlah besar. Orang-orang memakai pakaian rapi dan suasananya terasa tenang dan khusyuk.

Di Istana Maimun, ada kejadian lucu. Beberapa anak magang diam-diam memperhatikan Maria, Pavla, dan Hana sambil berbisik, “Bule… bule…” Sampai akhirnya Maria diminta berfoto bersama. Dalam hitungan menit, tour leader kami berubah jadi bintang dadakan di halaman istana.

[caption id="attachment_37298" align="alignnone" width="960"]Istana Maimun_Maria bersama para siswa/students Di Istana Maimun, Maria langsung jadi bintang dadakan. Anak-anak magang heboh berbisik “bule… bule…”, lalu dalam sekejap Maria diajak berfoto di halaman istana. Suasana sederhana yang berubah jadi tawa dan cerita kecil yang tak terlupakan. (foto ©Damayanti)[/caption]

Perjalanan menuju Tangkahan cukup panjang. Di tengah jalan kami berhenti di sebuah kedai cafe di Langkat. Ternyata kami berempat sama-sama pencinta kopi.

Maria sangat suka espresso dan punya standar tinggi untuk secangkir kopi. Untungnya, kopi hari itu berhasil membuatnya tersenyum puas.

Sebelum lanjut jalan, kami membeli pisang dan mangga dari penjual buah pinggir jalan. Maria lalu membagikan pisang itu satu per satu kepada kami.

Dari situlah aku mulai mengajarinya beberapa kata Batak yang lucu. Salah satunya “bodat”. Kami tertawa sepanjang perjalanan hanya karena satu kata sederhana.

Dari situ aku sadar, pariwisata sebenarnya hidup dari hal-hal kecil.

Bukan hanya hotel mewah atau tempat terkenal. Tetapi dari kopi lokal yang diminum bersama, buah yang dibeli langsung dari petani desa, atau warung kecil yang tetap bertahan karena ada wisatawan datang. Saat wisatawan membeli produk lokal, uang itu ikut membantu kehidupan masyarakat sekitar.

Dan Maria benar-benar suka melakukan itu. Ia tidak hanya mencari tempat cantik untuk difoto, tetapi juga ingin mengenal orang-orang di balik tempat itu.

Saat tiba di Tangkahan, Pavla dan Hana langsung terkejut melihat jembatan gantung panjang yang harus kami lewati sambil membawa koper. Mereka tertawa campur takut.

Beberapa ibu datang membantu mengangkat barang kami. Hal kecil seperti itu sering membuat tamu asing kagum pada keramahan orang Sumatra.

[caption id="attachment_37300" align="alignnone" width="1280"]TANGKAHAN Suasana makan siang di pinggir sungai di Tangkahan
(foto ©Damayanti)[/caption]

Siang itu kami makan di pinggir sungai. Suara air dan pepohonan membuat makan siang sederhana terasa sangat istimewa.

[caption id="attachment_37299" align="alignnone" width="960"]Makan Siang di Tangkahan Maria mengambil makan siang sederhana di tepi sungai, ditemani gemericik air dan rindangnya pepohonan. Di tengah alam yang tenang, setiap suapan terasa lebih hangat, lebih hidup, dan lebih berkesan. (foto ©Damayanti)[/caption]

Lalu petualangan di Sungai pun dimulai.

Kami berjalan menuju air terjun, bermain air, lalu tubing menyusuri sungai. Kadang kami tertawa, kadang berteriak saat ban menghantam batu. Rasanya seperti kembali menjadi anak-anak.

Keesokan harinya kami pergi ke camp gajah. Maria dan Pavla ikut memandikan gajah bersama pawang. Wajah mereka terlihat sangat bahagia terkena cipratan air dan lumpur.

Dari Tangkahan kami melanjutkan perjalanan menuju Bukit Lawang dengan jeep 4x4. Jalan berlumpur membuat mobil berguncang keras dan kami terus tertawa sepanjang perjalanan.

Di Bukit Lawang, suara Sungai Bahorok terdengar sepanjang malam.

Pagi berikutnya kami trekking masuk ke hutan Taman Nasional Gunung Leuser untuk mencari orangutan. Kami berjalan di bawah pohon-pohon besar yang tinggi sekali. Saat seekor orangutan muncul di atas pohon, semuanya langsung diam. Pavla dan Hana menatap penuh kagum. Rasanya seperti masuk ke dunia lain.

Hari-hari berikutnya terus mengalir seperti cerita panjang.

Kami menikmati udara dingin Berastagi, melihat Gunung Sinabung dari kejauhan, dan minum kopi di Erdillo Café.

[caption id="attachment_37317" align="alignnone" width="1280"]ERDILO CAFE-DAMAYANTI TOUR GUIDE SUMATRA Erdilo Coffee tempat nongkrong kopi di kai gunung Sinabung (foto: istimewa)[/caption]

Lagi-lagi Maria puas dengan espresso yang harum dan kuat rasanya. Bahkan ia sampai berfoto dengan latar Gunung Sinabung sambil memegang secangkir kopi.

[caption id="attachment_37301" align="alignnone" width="1600"]GUNUNG SIBAYAK SIBAYAK VOLCANO Subuh di Gunung Sibayak, kami mulai pendakian pukul empat pagi dalam gelap dan dingin yang menusuk.[/caption]

Subuh berikutnya kami mendaki Gunung Sibayak pukul empat pagi.

Udara dingin menusuk kulit. Jalan menanjak membuat napas terasa berat. Dalam gelap, kami hanya ditemani cahaya senter. Tetapi justru di perjalanan itu kami belajar bahwa mendaki gunung bukan hanya soal mencapai puncak, melainkan juga melawan rasa takut dan lelah dalam diri sendiri.

Setelah itu kami mengunjungi Desa Budaya Dokan. Rumah-rumah adat tua berdiri kokoh tanpa paku. Kayu-kayu tua, atap ijuk, dan kepala kerbau di ujung rumah membuat kami seperti kembali ke masa ratusan tahun lalu.

[caption id="attachment_37303" align="alignnone" width="1280"]DESA DOKAN KARO Desa Dokan menyambut kami dengan suasana tenang dan rumah adat Siwaluh Jabu yang berdiri kokoh sebagai saksi sejarah budaya Karo. (foto ©Damayanti)[/caption]

Lalu kami menuju Air Terjun Sipiso-piso. Dari sana Danau Toba terlihat sangat luas dan tenang.

Setelah itu kami bertemu teman-teman Maria di sebuah kafe dekat Danau Toba. Aku heran mengapa Maria punya kenalan di mana-mana. Tetapi lama-lama aku sadar, ia memang tipe orang yang mudah berteman dengan siapa saja.

Saat tiba di Pulau Samosir, suasana perjalanan berubah lebih tenang.

Danau Toba seperti membuat semua orang melambat.

Besoknya kami mengunjungi Huta Siallagan dan aku mulai bercerita tentang adat Batak, kursi batu Raja Batak, serta filosofi cicak dan payudara yang menghiasi rumah adat Batak Toba.

Aku menjelaskan bahwa cicak melambangkan orang Batak, sementara bentuk payudara melambangkan pentingnya keturunan dan penghormatan kepada ibu atau kampung halaman.

Maria, Pavla, dan Hana mendengarkan dengan serius. Aku senang melihat mereka benar-benar menghargai cerita budaya yang kubagikan.

Dari sana kami menuju Kampung Ulos Hutaraja, kampung leluhurku. Sebelum tiba, aku sengaja menunjukkan Tugu Simanihuruk, salah satu tugu paling megah di Samosir.

[caption id="attachment_37318" align="alignnone" width="960"]TUGU MEWAH SIMANUHURUK DI SAMOSIR-DAMAYANTI TOUR GUIDE SUMATRA Berhenti sejenak di Tugu Simanihuruk, salah satu tugu paling megah di Samosir (foto ©Damayanti)[/caption]

Setelah minum kopi bersama, aku mengajak mereka ke Rumah Belajar Hutaraja yang pernah kubuka di rumah warisan nenek buyutku.

[caption id="attachment_37310" align="alignnone" width="1200"]RUMAH BELAJAR HUTARAJA-DAMAYANTI TOUR GUIDE SUMATRA Kami berfoto bersama di Rumah Belajar Hutaraja, rumah belajar yang pernah ku buka namun akhirnya ku tutup karena tidak mampu melanjutkan operasionalnya (foto ©Damayanti)[/caption]

Di rumah sederhana itu aku pernah mengajar anak-anak Bahasa Inggris agar mereka berani berbicara dengan wisatawan asing dan memiliki masa depan lebih luas.

 

Perjalanan kami lanjut ke Air Terjun Nai Sogop, meski hujan sempat menghambat langkah kami. Karena lapar, kami akhirnya makan siang di Panorama Tele.

Maria yang baru pertama kali ke sana tampak sangat antusias mengabadikan pemandangan, bahkan kembali menjadi pusat perhatian anak-anak yang meminta foto bersama.

[caption id="attachment_37320" align="alignnone" width="1600"]PANORAMA TELE_DAMAYANTI_TOUR GUIDE SUMATRA Pemandangan indah di sky bridge Panorama Tele (foto ©Damayanti)[/caption]

Setelah hujan reda, kami akhirnya tiba di Nai Sogop. Walau air terjun tampak lebih coklat akibat hujan deras, Maria dan Pavla tetap menikmati suasana alam yang liar dan menenangkan itu.

[caption id="attachment_37319" align="alignnone" width="960"]AIR TERJUN NAI SOGOP-DAMAYANTI TOUR GUIDE SUMATRA Hujan deras membuat Air Terjun Nai Sogop tampak lebih coklat, tetapi suasana alamnya tetap memikat hati Maria dan Pavla. (foto ©Damayanti)[/caption]

Keeksokan harinya adalah hari istirahat panjang bertepatan saat itu Hari Minggu. Dari kami, ada yang ibadah, ada yang sibuk dengan laundry dan berbagai macam kesibukan lainnya.

Perjalanan terus berlanjut menuju Padang Sidempuan dan Bukittinggi.

[caption id="attachment_37302" align="alignnone" width="960"]FOTO BERSAMA WARGA KAMPUNG GIRSANG Berfoto bersama warga Kampung Girsang, kami disambut dengan kehangatan sederhana yang terasa tulus. (foto ©Damayanti)[/caption]

Akan tetapi sebelumnya kami berhenti di Kampung Girsang, di sinilah tempat tinggalku sekarang. Sebagai seorang yang tak mungkin mendapat warisan tanah, aku mesti memikirkan masa depanku sendiri.

Sengaja kuajak Maria melihat tempat tinggalku, sebuah gubuk kecil di Kampung Girsang. Aku bercerita bahwa saat tidak membawa tamu, aku sibuk mengurus usaha kecil yang baru saja kubangun, yakni usaha kemiri.

[caption id="attachment_37321" align="alignnone" width="1600"]USAHA KEMIRI GIRSANG_DAMAYANTI TOUR GUIDE SUMATRA Kujak Maria melihat gubuk kecilku di Kampung Girsang, tempat aku membangun mimpi kecil lewat usaha kemiri. (foto ©Damayanti)[/caption]

Bukan untuk menjadi kaya, tetapi agar aku bisa bertahan hidup di kampung kecil dengan pergerakan ekonomi yang terbatas ini. Sejak 2018, aku memilih tinggal di Danau Toba dan fokus mempromosikannya melalui pekerjaanku sebagai travel writer dan tour guide.

Namun bagiku, menjadi pemandu wisata bukan hanya soal membawa wisatawan berkeliling, melainkan juga tentang membangun sesuatu yang berarti bagi masyarakat lokal dan masa depanku sendiri.

Karena itu aku mulai bermimpi mengembangkan Kampung Girsang sebagai kampung wisata kecil yang hidup dari kekuatan masyarakatnya sendiri. Di sini ada kebun kopi, cengkeh, nanas, hingga usaha kecil seperti kopi sangrai, dan lainnya yang dijalankan warga.

Sedikit demi sedikit aku mencoba membantu lewat hal-hal kecil yang bisa kulakukan, termasuk mendukung kelompok pembibitan kopi yang baru kami mulai tahun ini.

Bagiku, perjalanan ini bukan hanya tentang wisata, tetapi tentang memperlihatkan sisi nyata Danau Toba yakni kehidupan masyarakat lokal, mimpi-mimpi kecil, dan harapan agar kampung ini tetap hidup.

Setelah berkunjung ke kampung ini, kami beranjak menuju Padang Sidempuan. Sebelumnya, kami berkunjung ke Aek Rangat Sipoholon. Selain itu, kami menikmati makan siang di Café Gorga, Tapanuli Utara.

[caption id="attachment_37322" align="alignnone" width="1280"]HOT SPRING SIPOHOLON_DAMAYANTI-TOUR GUIDE SUMATRA Menjelajahi kehangatan alam dan tradisi unik di Aek Rangat Sipoholon.(foto ©Damayanti)[/caption]

Lalu kami menuju Hotel Mega Permata di Padang Sidempuan.
Keesokan harinya, kami lanjut perjalanan menuju Bukit Tinggi. Seperti biasa, kami akan berhenti di sejumlah tempat yang menarik untuk dikunjungi.

Kami berhenti di tempat menempah parang atau pisau. Di sini rata-rata masyarakat memiliki usaha seperti ini. Aku pun tertarik untuk membeli sebilah pisau tajam yang cocok untuk ku pakai mengupas buah.

[caption id="attachment_37312" align="alignnone" width="1280"]PEMBUATAN PISAU DI SEKITAR PADANG SIDEMPUAN -DAMAYANTI TOUR GUIDE SUMATRA Lokasi pembuatan pisau ataau oarang di sekitar Padang Sidempuan (foto ©Damayanti)[/caption]

Akan tetapi, seperti biasa, Maria punya cara untuk membuatku tertawa. Dia bilang pisau itu akan ku pakai jaga diri siapa tahu ada yang berniat jahat padaku. Maria memang selalu punya pernyataan yang buatku senyum. Setelahnya, kami lanjutkan perjalanan menuju Equator.

Tetapi sebelum tiba, kami mendengar ada bunga bangkai amorphophallus titanium di tengah jalan yang sedang mekar. Saat itu kami melihat bunga itu menarik banyak perhatian warga yang lalu lalang. Kami sempat berhenti di tengah gerimis dan mengabadikan gambarnya.

[caption id="attachment_37313" align="alignnone" width="960"]BUNGA BANGKAI amorphophallus titanum Bunga Bangkai Amorphophallus Titanum (foto ©Damayanti)[/caption]

Berikutnya kami tiba di Taman Wisata Equator Bonjol, kami berhenti di garis khatulistiwa untuk berfoto bersama. Kami semua juga mendukung para pedagang kaos yang selalu tak pernah jauh dari kami. Bolak-balik membujuk kami membeli kaosnya.

Aku yang sudah punya stok 3. Maria juga sudah punya banyak stok, akhirnya membeli kembali. Bukan karena butuh tapi kami anggap itu cara kami mendukung para pedagang. Kaosnya bisa kami berikan buat orang terdekat kami.

[caption id="attachment_37323" align="alignnone" width="1280"]GARIS KHATULISTIWA DI TAMAN BONJOL SUMBAR_DAMAYANTI-TOUR GUIDE SUMATRA Berfoto di garis khatulistiwa di Taman Wisata Equator Bonjol di saat yang sama para pedagang mendekati kami, membujuk kami untuk membeli barang dagangan mereka. (foto ©Damayanti)[/caption]

Setelahnya, kami menuju Hotel Santika Dyandra Bukit Tinggi. Aku sendiri menginap di salah satu penginapan kawan HPI Bukit Tinggi bernama Erwin. Banyak pemandu wisata maupun supir menginap di sini.

[caption id="attachment_37327" align="alignnone" width="1280"]PAGARUYUNG SUMBAR-DAMAYANTI TOUR GUIDE SUMATRA Memandang megahnya Istano Basa Pagaruyung (foto ©Damayanti)[/caption][caption id="attachment_37325" align="alignnone" width="1280"]Panorama Sianok_DAMAYANTI-TOUR GUIDE SUMATRA Panorama Sianok (foto ©Damayanti)[/caption]

Keesokan harinya, kami menuju Panorama Sianok, Istana Pagaruyung, dan terakhir kami mengunjungi Pusat Oleh-Oleh Kiniko Kopi yang di sini kita bisa lihat pengelolaan kopi.
Dan tanpa terasa, tibalah hari terakhir yakni hari kesebelas.

[caption id="attachment_37305" align="alignnone" width="960"]KINIKO_KOPI_WESTSUMATRA Kami berkunjung ke Rumah Produk Kopi KINIKO (foto ©Damayanti)[/caption]

Kami menuju Bandara Padang melalui Lembah Anai. Jalan terasa lebih sunyi dibanding hari pertama karena akhirnya berpisah dengan mereka. Sebelas hari terasa sangat cepat.
Perjalanan ini bukan hanya tentang tempat-tempat indah di Sumatra.

[caption id="attachment_37326" align="alignnone" width="960"]PERPISAHAN DENGAN MEREKA-DAMAYANTI TOUR GUIDE SUMATRA Perpisahan dengan mereka di Bandara Minangkabau, Padang (foto ©Damayanti)[/caption]

Tetapi tentang tawa di dalam mobil, di perjalanan, kopi yang diminum bersama, pisang yang dibagi di tengah perjalanan, suara sungai di Tangkahan, orangutan di hutan, dan cerita kecil yang membuat kami terasa seperti teman lama.

Maria, Pavla, dan Hana datang sebagai tamu.
Tetapi mereka pulang sebagai bagian dari cerita yang akan selalu aku ingat.

Dan mungkin, harapan untuk Sumatra memang bisa tumbuh dari perjalanan-perjalanan sederhana seperti ini.

Perjalanan yang membuat wisatawan tidak hanya melihat alam, tetapi juga belajar mencintai manusia dan kehidupan di baliknya.

*Penulis/Editor: Damayanti Sinaga
Tour Guide Sumatra

Desa Sihotang, Indah dan Sejuk

 Desa Sihotang, Indah dan Sejuk

            Saat itu kami penasaran dengan sebuah bukit yang sangat populer diposting di kanal media sosial. Kebetulan saat itu aku lagi berkunjung ke rumah seorang kakak yang tinggal di Desa Rianiate, Pangururan. Jadi, kami memutuskan berkunjung ke bukit tersebut. Untuk mempersingkat perjalanan, kami menyebrang dari Pelabuhan Pintu Batu menuju Pelabuhan Sihotang. Seingatku tarif kapal Rp5ribu per orang. Demikian juga dengan tarif sepeda motor.

           

Kak Reynita dan  Maktua

Desa Sihotang

 Kapalnya lebih kecil dibandingkan kapal penumpang yang umum digunakan seperti di Pelabuhan Tomok. Jarak pandang dari tempat duduk ke air juga dekat. Dari Pelabuhan ini saja aku sudah merasa perjalanan kami luar biasa. Aku bisa melihat perbukitan di sekitar Danau Toba saat sedang menyebrang. Cuaca saat itu juga mendukung perjalanan kami.

            Sesampainya di Desa Sihotang, kami memotret keindahan alam di sekeliling. Aku lihat foto dengan latar bukit di sekitar Pelabuhan ini keren. Setelah berfoto ria kami melanjutkan perjalanan menuju bukit yang ingin kami kunjungi itu. Namun, selama perjalanan, aku terperangah melihat suasana Desa Sihotang. Indah, sejuk dan damai rasanya memandang desa tersebut. Saking indahnya, kami memutuskan untuk berhenti sebentar dan berfoto.

            Akan tetapi, jalan di sini tidak begitu bagus. Tapi kami masih bisa melewatinya dengan sepeda motor matic. Beberapa hal yang menarik di desa ini pematang sawah padinya kiri dan kanan, bukit-bukit yang mirip seperti di kartun Teletubbies diselimuti danau, dan perkampungan. Pepohonan di sini juga cukup banyak. Itu menambah kesejukan desa. Saat kami lewat, kami melihat warga sekitar sedang bekerja memanen padi. Aku bergumam melihat desa ini dan menyimpulkan desa ini punya potensi wisata.

            Suasana rileks di desa ini bikin kita tidak ingin segera beranjak. Sayangnya, tidak ada tempat duduk bagi wisatawan. Namun, kami memilih duduk di sisi jalan ada tembok sawah yang terbuat dari beton. Salah satu alasan mengapa UNESCO memberikan gelar Geopark untuk Kawasan Danau Toba karena alamnya begitu indah. Keindahan alam ini patut kita syukuri karena tidak semua orang di bumi bisa menikmatinya.

Setelah menikmati keindahan desa ini kami melanjutkan perjalanan menuju Bukit Holbung dan Bukit Sibea-Bea. Selama perjalanan kami seharian, aku sangat ingat pemandangan desa itu. Suasana desa itu begitu berkesan. Jika nanti kamu hendak mengunjungi Bukit Holbung dan Sibea-bea, yang jarak keduanya tidak begitu jauh satu sama lain, sempatkanlah singgah ke desa ini. Apalagi mengingat tidak ada tarif masuk ke desa ini. Tapi ingat kita harus menjaga sopan santun karena kita masuk ke desa dengan budaya yang berbeda.

Pantai Tandarabun Samosir


            Namanya unik. Jika dipisahkan kata Tandarabun menjadi tanda rabun seolah punya arti tersendiri dalam Bahasa Indonesia. Tapi belum diketahui pasti mengapa nama pantai ini Tandarabun. Lokasi Pantai ini di Desa Dosroha, Kecamatan Simanindo, Samosir.

            Pantai ini terbilang baru. Baru dibuka tahun 2018. Pantai ini tidak jauh dari pantai-pantai yang terkenal seperti Pantai Batu Hoda dan Sibolazi. Dari Tomok, bila naik kendaraan bermotor atau mobil, mungkin butuh waktu sekitar 30 menit untuk sampai kesini. Untuk kesini, kamu harus belok kanan menuju Pangururan.

            Kamu tidak akan kesulitan untuk menemukan pantai ini karena berada di pinggir jalan. Di jalan besar terpampang tulisan Pantai Pasir Tandarabun di sebelah kanan jalan jika kamu dari Tomok. Dari pinggir jalan kamu akan melihat barisan penginapan dan latar parkir.



            Tiket masuk Rp5ribu. Parkir sepeda motor Rp5ribu, mobil Rp10ribu. Tapi bisa jadi tarif ini berubah sewaktu-waktu, tergantung kebijakan pengelola. Sebagaimana pantai lainnya, pantai ini juga menyewakan berbagai fasilitas untuk menikmati bermain di air seperti pelampung, sepeda dayung, speed boat, dan lainnya. Tersedia juga penginapan. Kami tidak cantumkan harga karena pasti bisa jadi berubah suatu saat.

            Pantai ini dangkal, menjadikannya aman buat anak-anak. Wisatawan bisa berenang dengan nyaman karena terpancang tali pembatas sebagai tanda zona aman untuk bermain tanpa alat bantu. Saat muncul ombak juga tidak bahaya karena gelombangnya rendah.

            Dari pantai ini kita bisa melihat Pusuk Buhit, puncak tertinggi di kawasan Danau Toba. Di seberang pantai juga terdapat perbukitan yang berisi desa-desa. Di sekitar danau biasanya juga ada nelayan yang sedang menangkap ikan.

Tersedia spot-spot foto bagi kamu yang suka foto. Nah, ada pantai yang gratis masuk tapi kamu wajib memesan makanan dan minuman. Kalau di pantai ini sebaliknya. Kamu wajib bayar tiket masuk tapi tidak harus order makanan. Maka jika ingin ajak kawan beramai-ramai, hematnya kamu bawa makanan dan minuman kesini.

            Pantai ini dikelola oleh masyarakat setempat bekerjasama dengan komunitas para perantau yang berasal dari daerah sekitar pantai. Semoga adanya pantai ini dapat meningkatkan pendapatan masyarakat melalui sektor wisata. Meski kita bayar saat masuk ke pantai dan kewajiban pengelola untuk menjaga kebersihan lokasi wisata, kita juga harus berkontribusi untuk menjaga melestarikan Pantai di Danau Toba. Caranya dengan tidak membuang sampah sembarangan ya kawan-kawan. Selamat menikmati liburan di pantai!

Tio Beach, Karaokean Asyik di Tepi Pantai

Ingin karaokean dengan nuansa pantai? Suka salurkan bakat bernyanyi di hadapan publik? Atau sekadar uji seberapa bagus suaramu saat menyanyi di panggung? Ini lokasi tepat untukmu! Tio Beach.

            Pantai yang satu ini sangat disukai anak-anak muda. Banyak anak muda menghabiskan waktu karaokean bareng teman atau pacar di sini. Untuk satu lagu diiringi musik dipatok seharga Rp3000. Kamu bisa mengkespresikan dirimu dengan gaya apapun yang kamu sukai. Kamu bisa pilih jenis dan judul lagu yang kamu suka kepada pelayan.



            Karena panggungnya didesain menarik, saat kamu bernyanyi, kamu akan merasa seperti jadi penyanyi. Apalagi jika suaramu memang bagus, kali saja wisatawan yang hadir akan terpukau saat mendengarmu bernyanyi. Kalaupun tidak, nikmati saja tetap terus bernyanyi.

            Jika sudah lelah bernyanyi, kamu bisa nikmati pemandangan sekitar. Ada sejumlah pondok yang menghadap langsung ke Danau Toba. Kamu bisa order makanan dan minuman di sana. Harganya terbilang standar. Sepengetahuanku selama ini, tidak ada parkir ataupun tiket masuk untuk kesini.

            Duitmu keluar hanya saat kamu order makanan atau minuman dan karaokean. Kalau kamu tidak mau karaokean juga tidak masalah. Kamu bisa mandi atau sekadar main di pantai. Tio Beach juga menyewakan sepeda air bebek dan sampan jika kamu suka mendayung. Mandi di pantai juga seru. Tersedia kamar ganti dan toilet buat kamu yang mau ganti baju. Jadi, kalau niat mau mandi di pantai, sediakan kian baju gantimu.

            Jika kamu berencana mengelilingi Samosir, ini salah satu pantai yang paling mudah untuk kamu akses. Tidak jauh dari Pasar Tomok atau Pelabuhan Tomok. Dari Pelabuhan Tomok kamu dapat belok kanan mengikuti jalan besar. Sekitar 400 meter dari Tomok, sebelah kanan, kamu akan melihat papan nama Tio Beach. Persis di Jalan Silimatali.



            Sebenarnya, di Samosir terdapat banyak pantai. Kamu bisa pilih mana saja pantai yang kamu sukai. Pantai ini terkenal dengan tempat karaokenya. Jika berencana bawa kawan-kawan yang hobinya bernyanyi ria, inilah rekomendasi buatmu.

Kalau kamu akan jalan-jalan ke Samosir, menginap di Tomok, pantai ini bisa kamu akses dengan berjalan kaki. Daripada mengurung diri di kamar hotel, liburan itu enaknya nyanyi-nyanyi dan main di pantai loh! Ayolah ke Pantai!

           


Keliling Samosir Itu Murah dan Menyenangkan

 

Keliling Pulau Samosir

            Pernah berencana keliling Pulau Samosir? Mungkin ini salah satu pencapaian yang bisa kamu raih . Tidak begitu mahal dan tidak menghabiskan waktu banyak. Cukup 1 hari saja tuntas mengelilingi Pulau Samosir.

            Bergantung laju kendaraanmu dan waktu singgahmu ke objek wisata. Pengalamanku selama ini cukup 6-7jam saja kamu dapat menaklukan Pulau Samosir. Cerita tour bareng kawanku ini bisa berikan gambaran ke kamu jika nanti kamu hendak keliling Samosir.



            Ini cerita tour kami Desember 2019. Kami berenam. Aku, tiga kawan dan sepasang suami istri yang merupakan teman kami dari luar negeri. Karena sepasang suami istri ini warga negara luar, kami memutuskan kami membonceng mereka. Aku bersama istrinya, satu kawan pria bersama suaminya, dan dua kawan lagi. Jadi, kami gunakan tiga sepeda motor. Karena 2 sepeda motor  sudah tersedia. Kami hanya sewa 1 sepeda motor dari Carolina Hotel seharga 100ribu sehari (7jam).

            Kami mulai perjalanan dari lokasi kami menjemput teman kami di Hotel Inna Parapat. Lalu kami bergerak menuju Ihan Batak pukul 08.00 WIB. Sesampai di Ambarita pukul 09.00 WIB, kami bergerak menuju Tomok. Kami singgah membeli minuman dan snack bekal di perjalanan. Lalu kami segera lanjut menuju Air Terjun Sigarantung dan Desa Huta Bolon, desa yang masih punya rumah Batak. Kami mengabadikan sejumlah foto di sana.

            Kemudian kami bergerak menuju Desa Tanjungan. Singgah sebentar istirahat dan mengambil foto. Kami sempat menceritakan kepada sepasang suami istri ini tentang keindahan Pulau Samosir dan Danau Toba. Berharap mereka akan mengajak teman-teman mereka kelak untuk berkunjung ke Pulau Samosir.

            Setelahnya, kami langsung menuju Aek Natonang. Di sana kami juga sempat duduk sambil menikmati snack dan minuman yang kami bawa. Sambil duduk, kami menunjukkan kepada 2 bule ini betapa sederhana kehidupan di Samosir. Masyarakat hidup dari pertanian dan peternakan. Di sekitar terdapat banyak kerbau dan babi berkeliaran. Itu pemandangan yang unik bagi mereka.

            Tidak sampai sejam istirahat, kami melanjutkan perjalanan. Suami istri bule ini sangat menikmati pemandangan. Mereka meminta kami untuk memperlambat laju sepeda motor. Kami juga berhenti di tempat lain yang menurut kami cocok untuk mengambil foto. Salah satunya dengan latar belakang pemandangan sawah padi. Kalau tidak salah foto tersebut kami ambil di sekitar jalan menuju Onan Runggu.

            Kami istirahat siang sekitar pukul 12.30 di Onan Runggu. Kami cukup kesulitan menemukan makanan yang cocok buat sepasang suami istri ini. Pasalnya, sang istri vegetarian. Dia sama sekali tidak bisa memakan apapun yang berkaitan dengan daging dan ikan dan menginginkan makanan segar. Akhirnya kami mendapati sebuah rumah makan menyediakan mie goreng dan mie kuah. Lalu kami memesan mie yang dimasak tanpa daging dan telur.

            Usai istirahat makan siang. Kami melanjutkan perjalanan berikutnya menuju Aek Rangat Pangururan mendekati Pulau Tulas. Kami tidak menyebrang menuju Pulau tersebut. Tapi kami berfoto dengan latar belakang Pulau Tulas. Latar tersebut cantik sekali. Pasti kamu bakal jatuh cinta dan ingin mengambil latar foto di sini.



            Selanjutnya kami menuju arah ke Ambarita untuk menunggu Kapal Ihan Batak trip terakhir pukul 5.30 sore saat itu. Kami sudah mengantri dari jam 5 sore guna mengantisipasi keterlambatan. Tapi sebelumnya, kami memulangkan sepeda motor yang kami sewa dari Hotel Carolina. Kami juga sempat beli jajanan untuk kami makan bersama di kapal.

            Sekitar jam 7.30 kami kembali tiba di Parapat untuk mengantar sepasang suami istri ini kembali ke penginapannya. Perasaan kami begitu senang sekalipun capek seharian bersepeda motor selama lebih dari 7 jam. Perasaan lelah tidak seberapa dibandingkan pengalaman yang kami dapatkan bisa mengelilingi Samosir dan bercerita tentang Pulau yang mengagumkan ini.



            Kalau ditotal pengeluaran kami mengelilingi Pulau Samosir antara lain tiket penyebrangan Kapal Ihan, sewa sepeda motor seharga 100ribu, belanjaan kami di Indomaret, makan siang, dan jajanan di sore hari. Untuk kami berenam sekitar Rp.500ribu. ada 6 destinasi wisata yang kami kunjungi.

            Jika nanti kamu berencana ke Pulau Samosir untuk mengelilingi Pulau ini seharian, kamu bisa hemat anggaran dengan membawa sepeda motormu langsung ke pulau ini. Asalkan kamu sanggup membawa sepeda motormu untuk sampai ke Samosir.

            Tarif satu sepeda motor untuk menyebrang naik kapal kecil 13ribu dan tarif per orang 12 ribu. Sekali jalan sepeda motor+orang Rp25ribu. Pulang pergi 50ribu. Tarif ke sejumlah objek wisata yang ku sebutkan di cerita ini tidak ada sama sekali. Saat itu memang benar-benar tidak ada. Tapi tidak tahu kelak jika ada perubahan, bisa saja pemilik spot wisata meminta biaya parkir atau tarif masuk.



            Untuk penginapan, kamu bisa menentukan sendiri menginap dimana. Banyak penginapan di Parapat atau di Samosir. Kamu bebas memilih yang mana. Kamu bisa buat perbandingan plus minus dari penginapan yang kamu jajaki. Yuk, mulai buat rencana touring bareng kawan!

Air Terjun Sigarantung, Samosir

 

Air Terjun Sigarantung, Samosir

            Biasanya kita wajib mandi di Air Terjun, tapi Air Terjun yang satu ini bukanah wahana wisata untuk mandi.  Air Terjun ini sekadar spot untuk berfoto bagi kamu yang gemar berfoto di alam. Air terjun ini juga dianggap ‘keramat’. Maksudnya, air terjun ini dijadikan tempat untuk ziarah. Nama lain dari air terjun ini Air Terjun Sampuran Na Pitu.

Sampuran Na Pitu dalam bahasa Batak artinya semburan ketujuh. Itu karena air terjun terdiri dari 7 tingkat dan Sigarantung posisi ketujuh. Lokasi air terjun ini berada di di Dusun 3 Hutaginjang Sigarantung, Kecamatan Simanindo, Samosir. 

Lokasi air terjun ini dekat dengan Hutabolon. Bila kamu memulai perjalanan dari Pelabuhan Tomok, kamu bisa naik terus melewati sejumlah putaran. Sekitar 30 menit, kamu akan melihat air terjun di sebelah kanan.

Ada bale-bale atau pondok-pondok kecil bagi peziarah meletakkan persembahan seperti telur, uang, bir dan sebagainya. Ada kios dan lokasi parkir mobil dan sepeda motor bagi wisatawan. Di hari biasa, tidak ada penjaga parkir. Tapi di hari libur, akan ada pedagang musiman dan penjaga parkir yang akan meminta biaya parkir.

Di musim kemarau, air terjun ini dapat mengering dan hanya terdapat rembesan air dari tebing batu. Di musim penghujan, air terjun akan mengalir deras. Pernah di bulan Desember 2021 air terjun ini cukup membahayakan bagi pengguna jalan yang melintas karena semburan airnya yang begitu deras.

Air terjun ini menarik bagi kamu yang suka belajar tentang alam. Kamu bisa mengamati air terjun ini mengalir deras ke bawah dari ketinggian melalui formasi bebatuan pada badan sungai. Itu juga yang buat Kawasan Danau Toba layak menyandang gelar Taman Bumi (Geopark). Ada begitu banyak situs alam yang dapat kamu kunjungi. Salah satunya Air Terjun Sigarantung.

Bagi kamu yang tertarik untuk singgah dan ambil foto di sini, tolong jaga sopan santun. Di lokasi ini orang-orang biasanya berdoa, so, jangan teriak atau bersuara besar. Jangan buang sampah sembarangan juga ya guys.  (Damayanti)

 

Fotoku bersama kawan-kawan


 

 

 


 


Meeting Solo Female Travelers Around Lake Toba

    Samosir, NINNA.ID -One of my biggest motivations for becoming a tour guide was simple: I wanted to have friends from different parts of ...