Tampilkan postingan dengan label Danau Toba. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Danau Toba. Tampilkan semua postingan

Kampung Girsang, Ketika Danau Toba Bercerita Lewat Rempah

 


Di lereng hijau Danau Toba, rempah tidak hanya tumbuh di kebun. Ia hidup dalam ingatan, makanan, pekerjaan, dan keseharian masyarakat. Di Kampung Girsang, kemiri, andaliman, jahe, kunyit, lengkuas, kopi hingga kakao menjadi bagian dari sebuah lanskap kehidupan yang perlahan menemukan identitasnya sebagai kampung rempah.

Ada cara lain untuk mengenal Danau Toba selain berdiri di tepiannya.

Bukan dengan menghitung luas permukaan airnya, bukan pula sekadar mengabadikan siluet pegunungan yang mengelilinginya.

Cobalah berjalan sedikit lebih jauh.

Masuk ke kampung-kampung yang berada di sekitarnya. Menyusuri jalan kecil di antara kebun. Memperhatikan tanaman yang tumbuh di halaman dan ladang. Mencium aroma tanah setelah hujan. Atau berhenti sejenak ketika seseorang menunjukkan buah, daun, biji, atau rempah yang selama ini menjadi bagian dari dapur mereka.

Di Kampung Girsang, salah satu kampung di kawasan Danau Toba, perjalanan semacam itu menemukan ceritanya.

Sebab di tempat ini, alam, pertanian, rempah, makanan dan kehidupan masyarakat bertemu dalam satu lanskap.

Rempah yang Tumbuh Bersama Kehidupan

Indonesia sejak lama dikenal sebagai negeri rempah. Sejarah Nusantara bahkan tidak dapat dipisahkan dari perdagangan pala, lada, cengkih, kamper dan berbagai hasil bumi yang dahulu membuat kapal-kapal dari berbagai penjuru dunia datang ke kepulauan ini.

Namun rempah bukan hanya cerita masa lalu.

Di Kampung Girsang, cerita itu masih dapat ditemukan dalam bentuk yang jauh lebih sederhana: tanaman yang tumbuh di kebun masyarakat dan digunakan dalam kehidupan sehari-hari.

Ada kemiri yang tumbuh di kebun dan kawasan hutan.

Ada andaliman, rempah yang begitu dekat dengan cita rasa masakan Batak.

Ada jahe, kunyit dan lengkuas, tanaman yang bukan hanya dikenal sebagai bumbu, tetapi juga bagian dari pengetahuan masyarakat tentang tanaman herbal.

Ada pula kopi Arabika dan kakao, berdampingan dengan beragam tanaman pangan lainnya.

Semua itu membuat Kampung Girsang memiliki sesuatu yang lebih dari sek


























 

Ia memiliki rasa.

Dokumen pengembangan Kampung Girsang menggambarkan kawasan ini sebagai living agriculture—pertanian yang masih menjadi bagian dari kehidupan masyarakat, bukan sekadar kawasan produksi massal.

Dari Kemiri hingga Andaliman

Di antara tanaman-tanaman itu, kemiri memiliki cerita tersendiri.

Kemiri merupakan salah satu komoditas lokal yang tumbuh di kebun dan kawasan hutan masyarakat Girsang. Dari sinilah muncul gagasan untuk memperkuat identitas Girsang sebagai Kampung Kemiri sekaligus bagian dari narasi yang lebih besar sebagai kampung rempah.

Sementara itu, andaliman membawa cerita tentang rasa.

Bagi kuliner Batak, rempah ini bukan sekadar penyedap. Karakter rasa dan aromanya menjadi bagian dari identitas makanan yang tumbuh dari tanah Sumatra Utara.

Membawa wisatawan mengenal andaliman berarti membawa mereka lebih dekat kepada budaya.

Mereka dapat melihat tanamannya, mengenali aromanya, memahami bagaimana masyarakat memanfaatkannya, kemudian menemukan rempah itu kembali di dalam makanan.

Sebuah rempah berubah menjadi sebuah cerita.

Kebun yang Menjadi Buku Terbuka

Barangkali inilah kekuatan terbesar Kampung Girsang.

Kebunnya tidak perlu dibuat seperti museum.

Sawah tidak perlu disulap menjadi dekorasi.

Hutan tidak perlu diberi panggung.

Sebab semuanya sudah menjadi bagian dari kehidupan.

Di lereng Bukit Simumbang, misalnya, wisatawan dapat menemukan lanskap pertanian dengan kopi, kakao, padi, jagung, singkong, tebu, pisang, nanas, alpukat, asam, berbagai jenis kacang-kacangan, serta tanaman rempah dan herbal seperti jahe, kunyit dan lengkuas.

Kebun-kebun itu pada akhirnya dapat menjadi buku terbuka.

Setiap tanaman mempunyai cerita.

Setiap petani mempunyai pengalaman.

Setiap makanan mempunyai asal-usul.

Dan setiap perjalanan dapat menjadi kesempatan untuk memperkenalkan hubungan antara manusia dan alam.

Ketika Pertanian Menjadi Pengalaman Wisata

Di banyak tempat, wisatawan datang untuk melihat sesuatu.

Di Kampung Girsang, mereka berpeluang untuk mengalami sesuatu.

Berjalan di kebun dan mengenal rempah.

Menyentuh tanaman.

Mencium aroma jahe atau kunyit.

Mengenal andaliman.

Melihat kemiri.

Menyaksikan kopi tumbuh di lereng.

Mengenal proses pengolahan hasil pertanian.

Mencicipi makanan lokal.

Kemudian berjalan lebih jauh untuk melihat sawah bertingkat, hutan, sumber air, rumah tradisional Batak, dan kehidupan masyarakat.

Pertanian di Girsang memang tidak berdiri sendiri. Sistem kehidupan di kawasan ini memperlihatkan hubungan antara hutan, sumber air, sawah, kebun dan masyarakat. Teras-teras pertanian dibangun dan dirawat secara manual, sementara semangat marsiadapari mencerminkan nilai kerja bersama dalam kehidupan masyarakat.

Dengan kata lain, wisatawan tidak hanya melihat produk pertanian.

Mereka dapat melihat sistem kehidupan yang menghasilkan produk tersebut.

Danau Toba dari Sudut yang Berbeda

Selama ini, Danau Toba sering dijual melalui panorama.

Tidak salah.

Panoramanya memang luar biasa.

Tetapi perjalanan wisata hari ini semakin membutuhkan sesuatu yang lebih dari sekadar pemandangan.

Wisatawan ingin tahu:

Apa yang dimakan masyarakat di sini?
Apa yang tumbuh di tanah ini?
Bagaimana masyarakat mengolahnya?
Apa cerita di balik makanan mereka?
Bagaimana alam memberikan kehidupan?

Pertanyaan-pertanyaan itu menemukan jawabannya ketika wisatawan masuk ke Kampung Girsang.

Di sana, Danau Toba tidak hanya terlihat dari kejauhan.

Ia terasa melalui tanah, tanaman, makanan dan kehidupan masyarakat.

Kampung Rempah di Danau Toba

Gagasan menjadikan Girsang sebagai Kampung Rempah di Danau Toba bukan berarti menciptakan identitas yang sama sekali baru.

Justru sebaliknya.

Identitas itu berangkat dari apa yang sudah ada.

Kemiri sudah tumbuh.
Andaliman sudah dikenal.
Jahe, kunyit dan lengkuas sudah menjadi bagian dari kebun.
Kopi dan kakao sudah dibudidayakan.
Sawah dan kebun menjadi bagian dari lanskap.
Hutan menjaga sumber air.
Makanan membawa cita rasa lokal.
Dan masyarakat menjadi penjaga pengetahuan yang hidup.

Semua itu ada di Kampung Girsang.

Tantangannya adalah bagaimana kekayaan tersebut tidak berhenti sebagai komoditas.

Bagaimana kemiri tidak hanya dijual sebagai biji.

Bagaimana andaliman tidak hanya hadir di dapur.

Bagaimana kopi tidak hanya menjadi minuman.

Bagaimana kebun tidak hanya menjadi lahan produksi.

Tetapi semuanya dapat berubah menjadi pengalaman, cerita, produk lokal, pengetahuan dan identitas wisata.

Cerita Baru untuk Para Pemandu Wisata

Bagi pemandu wisata, inilah peluang yang menarik.

Ketika membawa wisatawan melihat Danau Toba, perjalanan tidak harus berhenti pada kalimat, “Ini Danau Toba.”

Ada cerita yang dapat dilanjutkan.

“Ini tanah tempat masyarakat menanam kopi.”

“Ini rempah yang digunakan dalam masakan Batak.”

“Ini kemiri yang tumbuh di kebun masyarakat.”

“Ini tanaman herbal yang sudah lama dikenal masyarakat.”

Lalu perjalanan dapat berlanjut dari melihat menjadi mengalami.

Dari panorama menjadi cerita.

Dari cerita menjadi rasa.

Dan dari rasa menjadi ingatan.

Sebab wisatawan mungkin akan lupa nama sebuah jalan atau bahkan lupa detail sebuah pemandangan.

Tetapi mereka mungkin akan mengingat rasa andaliman yang pertama kali mereka coba di Danau Toba.

Mereka mungkin mengingat aroma kopi dari kebun.

Atau kemiri yang mereka lihat langsung di pohonnya.

Bukan Sekadar Kampung Wisata

Kampung Girsang memiliki peluang untuk mengambil posisi yang lebih spesifik.

Bukan hanya kampung wisata.

Bukan hanya destinasi pertanian.

Bukan hanya tempat untuk melihat panorama.

Tetapi sebuah tempat di mana rempah menjadi pintu masuk untuk memahami alam, pertanian, makanan dan budaya Batak.

Sebuah tempat di mana wisatawan dapat berjalan dari kebun menuju meja makan.

Dari tanaman menuju cerita.

Dari petani menuju pengalaman.

Dan dari pengalaman menuju pemahaman tentang bagaimana masyarakat hidup bersama alam.

Dokumen pengembangan Girsang sendiri telah mengidentifikasi berbagai peluang seperti wisata pertanian dan herbal, kebun demonstrasi tanaman rempah dan obat, pengolahan hasil pertanian, pelatihan storytelling warga, homestay, serta pusat pembelajaran agrowisata skala kampung.

 



Dari Tanah Batak, Sebuah Cerita Dimulai

Dahulu, rempah membuat bangsa-bangsa datang ke Nusantara.

Hari ini, rempah dapat membawa wisatawan datang dengan alasan yang berbeda.

Bukan untuk merebutnya.

Melainkan untuk mengenalnya.

Untuk memahami tanah tempat ia tumbuh.

Untuk bertemu dengan orang-orang yang merawatnya.

Untuk mencicipi makanan yang menggunakannya.

Dan untuk membawa pulang cerita.

Di tengah bentang alam Danau Toba, Kampung Girsang sedang memiliki kesempatan untuk memperkenalkan dirinya dengan cara yang lebih dalam.

Bukan hanya melalui apa yang terlihat.

Tetapi melalui apa yang tumbuh, dirawat, dimasak, diwariskan dan dirasakan.

Sebab di Kampung Girsang, rempah bukan sekadar bumbu.

Rempah adalah cerita tentang tanah.
Cerita tentang manusia.
Cerita tentang budaya.
Dan cerita tentang masa depan kampung.

Kampung Girsang

Kampung Rempah di Danau Toba

Datang untuk melihat Danau Toba.
Berjalanlah lebih jauh untuk mengenal tanahnya.
Dan rasakan ceritanya di Kampung Girsang.

 

BOOK YOUR GIRSANG EXPERIENCE

For information and local guiding:

WhatsApp: +62 852 9773 2855
Damayanti Sinaga

Blog: KampungGirsang.Blogspot.com
Email: Kampunggirsang@gmail.com




















 

Sebelas Hari Bersama Perempuan-Perempuan Hebat dari Eropa Timur Eksplor Sumatra

     

NINNA-Malam 4 Mei 2026, Bandara Kualanamu masih sibuk dan penuh suara orang berlalu-lalang. Aku berdiri menunggu tiga tamu spesial dari Slovakia dan Republik Czech. Tak lama kemudian, muncul tiga perempuan dengan koper besar dan wajah lelah setelah perjalanan panjang: Maria, Pavla, dan Hana.

Kami langsung berfoto bersama. Foto pertama dari perjalanan sebelas hari yang nantinya dipenuhi cerita, tawa, dan banyak kejutan kecil.

[caption id="attachment_37297" align="alignnone" width="1280"]DAMAYANTI_AIRPORT_PICK_UP Menjemput Maria, Pavla, dan Hana di Bandara Kualanamu bukan sekadar awal perjalanan, tapi awal dari sebelas hari cerita, tawa, dan persahabatan baru yang tumbuh di Sumatra. (foto ©Damayanti)[/caption]

Malam itu kami menuju hotel di Kota Medan. Awalnya suasana di mobil sedikit canggung, seperti orang-orang yang baru saling mengenal. Tetapi Maria mulai banyak bertanya, lalu percakapan mengalir begitu saja. Saat itu aku mulai merasa, perjalanan ini pasti akan menyenangkan.

Keesokan paginya kami memulai petualangan di Kota Medan. Kami mengunjungi Masjid Raya Al Mashun dan Istana Maimun. Saat tiba di masjid, ternyata sedang ada doa bersama dalam jumlah besar. Orang-orang memakai pakaian rapi dan suasananya terasa tenang dan khusyuk.

Di Istana Maimun, ada kejadian lucu. Beberapa anak magang diam-diam memperhatikan Maria, Pavla, dan Hana sambil berbisik, “Bule… bule…” Sampai akhirnya Maria diminta berfoto bersama. Dalam hitungan menit, tour leader kami berubah jadi bintang dadakan di halaman istana.

[caption id="attachment_37298" align="alignnone" width="960"]Istana Maimun_Maria bersama para siswa/students Di Istana Maimun, Maria langsung jadi bintang dadakan. Anak-anak magang heboh berbisik “bule… bule…”, lalu dalam sekejap Maria diajak berfoto di halaman istana. Suasana sederhana yang berubah jadi tawa dan cerita kecil yang tak terlupakan. (foto ©Damayanti)[/caption]

Perjalanan menuju Tangkahan cukup panjang. Di tengah jalan kami berhenti di sebuah kedai cafe di Langkat. Ternyata kami berempat sama-sama pencinta kopi.

Maria sangat suka espresso dan punya standar tinggi untuk secangkir kopi. Untungnya, kopi hari itu berhasil membuatnya tersenyum puas.

Sebelum lanjut jalan, kami membeli pisang dan mangga dari penjual buah pinggir jalan. Maria lalu membagikan pisang itu satu per satu kepada kami.

Dari situlah aku mulai mengajarinya beberapa kata Batak yang lucu. Salah satunya “bodat”. Kami tertawa sepanjang perjalanan hanya karena satu kata sederhana.

Dari situ aku sadar, pariwisata sebenarnya hidup dari hal-hal kecil.

Bukan hanya hotel mewah atau tempat terkenal. Tetapi dari kopi lokal yang diminum bersama, buah yang dibeli langsung dari petani desa, atau warung kecil yang tetap bertahan karena ada wisatawan datang. Saat wisatawan membeli produk lokal, uang itu ikut membantu kehidupan masyarakat sekitar.

Dan Maria benar-benar suka melakukan itu. Ia tidak hanya mencari tempat cantik untuk difoto, tetapi juga ingin mengenal orang-orang di balik tempat itu.

Saat tiba di Tangkahan, Pavla dan Hana langsung terkejut melihat jembatan gantung panjang yang harus kami lewati sambil membawa koper. Mereka tertawa campur takut.

Beberapa ibu datang membantu mengangkat barang kami. Hal kecil seperti itu sering membuat tamu asing kagum pada keramahan orang Sumatra.

[caption id="attachment_37300" align="alignnone" width="1280"]TANGKAHAN Suasana makan siang di pinggir sungai di Tangkahan
(foto ©Damayanti)[/caption]

Siang itu kami makan di pinggir sungai. Suara air dan pepohonan membuat makan siang sederhana terasa sangat istimewa.

[caption id="attachment_37299" align="alignnone" width="960"]Makan Siang di Tangkahan Maria mengambil makan siang sederhana di tepi sungai, ditemani gemericik air dan rindangnya pepohonan. Di tengah alam yang tenang, setiap suapan terasa lebih hangat, lebih hidup, dan lebih berkesan. (foto ©Damayanti)[/caption]

Lalu petualangan di Sungai pun dimulai.

Kami berjalan menuju air terjun, bermain air, lalu tubing menyusuri sungai. Kadang kami tertawa, kadang berteriak saat ban menghantam batu. Rasanya seperti kembali menjadi anak-anak.

Keesokan harinya kami pergi ke camp gajah. Maria dan Pavla ikut memandikan gajah bersama pawang. Wajah mereka terlihat sangat bahagia terkena cipratan air dan lumpur.

Dari Tangkahan kami melanjutkan perjalanan menuju Bukit Lawang dengan jeep 4x4. Jalan berlumpur membuat mobil berguncang keras dan kami terus tertawa sepanjang perjalanan.

Di Bukit Lawang, suara Sungai Bahorok terdengar sepanjang malam.

Pagi berikutnya kami trekking masuk ke hutan Taman Nasional Gunung Leuser untuk mencari orangutan. Kami berjalan di bawah pohon-pohon besar yang tinggi sekali. Saat seekor orangutan muncul di atas pohon, semuanya langsung diam. Pavla dan Hana menatap penuh kagum. Rasanya seperti masuk ke dunia lain.

Hari-hari berikutnya terus mengalir seperti cerita panjang.

Kami menikmati udara dingin Berastagi, melihat Gunung Sinabung dari kejauhan, dan minum kopi di Erdillo Café.

[caption id="attachment_37317" align="alignnone" width="1280"]ERDILO CAFE-DAMAYANTI TOUR GUIDE SUMATRA Erdilo Coffee tempat nongkrong kopi di kai gunung Sinabung (foto: istimewa)[/caption]

Lagi-lagi Maria puas dengan espresso yang harum dan kuat rasanya. Bahkan ia sampai berfoto dengan latar Gunung Sinabung sambil memegang secangkir kopi.

[caption id="attachment_37301" align="alignnone" width="1600"]GUNUNG SIBAYAK SIBAYAK VOLCANO Subuh di Gunung Sibayak, kami mulai pendakian pukul empat pagi dalam gelap dan dingin yang menusuk.[/caption]

Subuh berikutnya kami mendaki Gunung Sibayak pukul empat pagi.

Udara dingin menusuk kulit. Jalan menanjak membuat napas terasa berat. Dalam gelap, kami hanya ditemani cahaya senter. Tetapi justru di perjalanan itu kami belajar bahwa mendaki gunung bukan hanya soal mencapai puncak, melainkan juga melawan rasa takut dan lelah dalam diri sendiri.

Setelah itu kami mengunjungi Desa Budaya Dokan. Rumah-rumah adat tua berdiri kokoh tanpa paku. Kayu-kayu tua, atap ijuk, dan kepala kerbau di ujung rumah membuat kami seperti kembali ke masa ratusan tahun lalu.

[caption id="attachment_37303" align="alignnone" width="1280"]DESA DOKAN KARO Desa Dokan menyambut kami dengan suasana tenang dan rumah adat Siwaluh Jabu yang berdiri kokoh sebagai saksi sejarah budaya Karo. (foto ©Damayanti)[/caption]

Lalu kami menuju Air Terjun Sipiso-piso. Dari sana Danau Toba terlihat sangat luas dan tenang.

Setelah itu kami bertemu teman-teman Maria di sebuah kafe dekat Danau Toba. Aku heran mengapa Maria punya kenalan di mana-mana. Tetapi lama-lama aku sadar, ia memang tipe orang yang mudah berteman dengan siapa saja.

Saat tiba di Pulau Samosir, suasana perjalanan berubah lebih tenang.

Danau Toba seperti membuat semua orang melambat.

Besoknya kami mengunjungi Huta Siallagan dan aku mulai bercerita tentang adat Batak, kursi batu Raja Batak, serta filosofi cicak dan payudara yang menghiasi rumah adat Batak Toba.

Aku menjelaskan bahwa cicak melambangkan orang Batak, sementara bentuk payudara melambangkan pentingnya keturunan dan penghormatan kepada ibu atau kampung halaman.

Maria, Pavla, dan Hana mendengarkan dengan serius. Aku senang melihat mereka benar-benar menghargai cerita budaya yang kubagikan.

Dari sana kami menuju Kampung Ulos Hutaraja, kampung leluhurku. Sebelum tiba, aku sengaja menunjukkan Tugu Simanihuruk, salah satu tugu paling megah di Samosir.

[caption id="attachment_37318" align="alignnone" width="960"]TUGU MEWAH SIMANUHURUK DI SAMOSIR-DAMAYANTI TOUR GUIDE SUMATRA Berhenti sejenak di Tugu Simanihuruk, salah satu tugu paling megah di Samosir (foto ©Damayanti)[/caption]

Setelah minum kopi bersama, aku mengajak mereka ke Rumah Belajar Hutaraja yang pernah kubuka di rumah warisan nenek buyutku.

[caption id="attachment_37310" align="alignnone" width="1200"]RUMAH BELAJAR HUTARAJA-DAMAYANTI TOUR GUIDE SUMATRA Kami berfoto bersama di Rumah Belajar Hutaraja, rumah belajar yang pernah ku buka namun akhirnya ku tutup karena tidak mampu melanjutkan operasionalnya (foto ©Damayanti)[/caption]

Di rumah sederhana itu aku pernah mengajar anak-anak Bahasa Inggris agar mereka berani berbicara dengan wisatawan asing dan memiliki masa depan lebih luas.

 

Perjalanan kami lanjut ke Air Terjun Nai Sogop, meski hujan sempat menghambat langkah kami. Karena lapar, kami akhirnya makan siang di Panorama Tele.

Maria yang baru pertama kali ke sana tampak sangat antusias mengabadikan pemandangan, bahkan kembali menjadi pusat perhatian anak-anak yang meminta foto bersama.

[caption id="attachment_37320" align="alignnone" width="1600"]PANORAMA TELE_DAMAYANTI_TOUR GUIDE SUMATRA Pemandangan indah di sky bridge Panorama Tele (foto ©Damayanti)[/caption]

Setelah hujan reda, kami akhirnya tiba di Nai Sogop. Walau air terjun tampak lebih coklat akibat hujan deras, Maria dan Pavla tetap menikmati suasana alam yang liar dan menenangkan itu.

[caption id="attachment_37319" align="alignnone" width="960"]AIR TERJUN NAI SOGOP-DAMAYANTI TOUR GUIDE SUMATRA Hujan deras membuat Air Terjun Nai Sogop tampak lebih coklat, tetapi suasana alamnya tetap memikat hati Maria dan Pavla. (foto ©Damayanti)[/caption]

Keeksokan harinya adalah hari istirahat panjang bertepatan saat itu Hari Minggu. Dari kami, ada yang ibadah, ada yang sibuk dengan laundry dan berbagai macam kesibukan lainnya.

Perjalanan terus berlanjut menuju Padang Sidempuan dan Bukittinggi.

[caption id="attachment_37302" align="alignnone" width="960"]FOTO BERSAMA WARGA KAMPUNG GIRSANG Berfoto bersama warga Kampung Girsang, kami disambut dengan kehangatan sederhana yang terasa tulus. (foto ©Damayanti)[/caption]

Akan tetapi sebelumnya kami berhenti di Kampung Girsang, di sinilah tempat tinggalku sekarang. Sebagai seorang yang tak mungkin mendapat warisan tanah, aku mesti memikirkan masa depanku sendiri.

Sengaja kuajak Maria melihat tempat tinggalku, sebuah gubuk kecil di Kampung Girsang. Aku bercerita bahwa saat tidak membawa tamu, aku sibuk mengurus usaha kecil yang baru saja kubangun, yakni usaha kemiri.

[caption id="attachment_37321" align="alignnone" width="1600"]USAHA KEMIRI GIRSANG_DAMAYANTI TOUR GUIDE SUMATRA Kujak Maria melihat gubuk kecilku di Kampung Girsang, tempat aku membangun mimpi kecil lewat usaha kemiri. (foto ©Damayanti)[/caption]

Bukan untuk menjadi kaya, tetapi agar aku bisa bertahan hidup di kampung kecil dengan pergerakan ekonomi yang terbatas ini. Sejak 2018, aku memilih tinggal di Danau Toba dan fokus mempromosikannya melalui pekerjaanku sebagai travel writer dan tour guide.

Namun bagiku, menjadi pemandu wisata bukan hanya soal membawa wisatawan berkeliling, melainkan juga tentang membangun sesuatu yang berarti bagi masyarakat lokal dan masa depanku sendiri.

Karena itu aku mulai bermimpi mengembangkan Kampung Girsang sebagai kampung wisata kecil yang hidup dari kekuatan masyarakatnya sendiri. Di sini ada kebun kopi, cengkeh, nanas, hingga usaha kecil seperti kopi sangrai, dan lainnya yang dijalankan warga.

Sedikit demi sedikit aku mencoba membantu lewat hal-hal kecil yang bisa kulakukan, termasuk mendukung kelompok pembibitan kopi yang baru kami mulai tahun ini.

Bagiku, perjalanan ini bukan hanya tentang wisata, tetapi tentang memperlihatkan sisi nyata Danau Toba yakni kehidupan masyarakat lokal, mimpi-mimpi kecil, dan harapan agar kampung ini tetap hidup.

Setelah berkunjung ke kampung ini, kami beranjak menuju Padang Sidempuan. Sebelumnya, kami berkunjung ke Aek Rangat Sipoholon. Selain itu, kami menikmati makan siang di Café Gorga, Tapanuli Utara.

[caption id="attachment_37322" align="alignnone" width="1280"]HOT SPRING SIPOHOLON_DAMAYANTI-TOUR GUIDE SUMATRA Menjelajahi kehangatan alam dan tradisi unik di Aek Rangat Sipoholon.(foto ©Damayanti)[/caption]

Lalu kami menuju Hotel Mega Permata di Padang Sidempuan.
Keesokan harinya, kami lanjut perjalanan menuju Bukit Tinggi. Seperti biasa, kami akan berhenti di sejumlah tempat yang menarik untuk dikunjungi.

Kami berhenti di tempat menempah parang atau pisau. Di sini rata-rata masyarakat memiliki usaha seperti ini. Aku pun tertarik untuk membeli sebilah pisau tajam yang cocok untuk ku pakai mengupas buah.

[caption id="attachment_37312" align="alignnone" width="1280"]PEMBUATAN PISAU DI SEKITAR PADANG SIDEMPUAN -DAMAYANTI TOUR GUIDE SUMATRA Lokasi pembuatan pisau ataau oarang di sekitar Padang Sidempuan (foto ©Damayanti)[/caption]

Akan tetapi, seperti biasa, Maria punya cara untuk membuatku tertawa. Dia bilang pisau itu akan ku pakai jaga diri siapa tahu ada yang berniat jahat padaku. Maria memang selalu punya pernyataan yang buatku senyum. Setelahnya, kami lanjutkan perjalanan menuju Equator.

Tetapi sebelum tiba, kami mendengar ada bunga bangkai amorphophallus titanium di tengah jalan yang sedang mekar. Saat itu kami melihat bunga itu menarik banyak perhatian warga yang lalu lalang. Kami sempat berhenti di tengah gerimis dan mengabadikan gambarnya.

[caption id="attachment_37313" align="alignnone" width="960"]BUNGA BANGKAI amorphophallus titanum Bunga Bangkai Amorphophallus Titanum (foto ©Damayanti)[/caption]

Berikutnya kami tiba di Taman Wisata Equator Bonjol, kami berhenti di garis khatulistiwa untuk berfoto bersama. Kami semua juga mendukung para pedagang kaos yang selalu tak pernah jauh dari kami. Bolak-balik membujuk kami membeli kaosnya.

Aku yang sudah punya stok 3. Maria juga sudah punya banyak stok, akhirnya membeli kembali. Bukan karena butuh tapi kami anggap itu cara kami mendukung para pedagang. Kaosnya bisa kami berikan buat orang terdekat kami.

[caption id="attachment_37323" align="alignnone" width="1280"]GARIS KHATULISTIWA DI TAMAN BONJOL SUMBAR_DAMAYANTI-TOUR GUIDE SUMATRA Berfoto di garis khatulistiwa di Taman Wisata Equator Bonjol di saat yang sama para pedagang mendekati kami, membujuk kami untuk membeli barang dagangan mereka. (foto ©Damayanti)[/caption]

Setelahnya, kami menuju Hotel Santika Dyandra Bukit Tinggi. Aku sendiri menginap di salah satu penginapan kawan HPI Bukit Tinggi bernama Erwin. Banyak pemandu wisata maupun supir menginap di sini.

[caption id="attachment_37327" align="alignnone" width="1280"]PAGARUYUNG SUMBAR-DAMAYANTI TOUR GUIDE SUMATRA Memandang megahnya Istano Basa Pagaruyung (foto ©Damayanti)[/caption][caption id="attachment_37325" align="alignnone" width="1280"]Panorama Sianok_DAMAYANTI-TOUR GUIDE SUMATRA Panorama Sianok (foto ©Damayanti)[/caption]

Keesokan harinya, kami menuju Panorama Sianok, Istana Pagaruyung, dan terakhir kami mengunjungi Pusat Oleh-Oleh Kiniko Kopi yang di sini kita bisa lihat pengelolaan kopi.
Dan tanpa terasa, tibalah hari terakhir yakni hari kesebelas.

[caption id="attachment_37305" align="alignnone" width="960"]KINIKO_KOPI_WESTSUMATRA Kami berkunjung ke Rumah Produk Kopi KINIKO (foto ©Damayanti)[/caption]

Kami menuju Bandara Padang melalui Lembah Anai. Jalan terasa lebih sunyi dibanding hari pertama karena akhirnya berpisah dengan mereka. Sebelas hari terasa sangat cepat.
Perjalanan ini bukan hanya tentang tempat-tempat indah di Sumatra.

[caption id="attachment_37326" align="alignnone" width="960"]PERPISAHAN DENGAN MEREKA-DAMAYANTI TOUR GUIDE SUMATRA Perpisahan dengan mereka di Bandara Minangkabau, Padang (foto ©Damayanti)[/caption]

Tetapi tentang tawa di dalam mobil, di perjalanan, kopi yang diminum bersama, pisang yang dibagi di tengah perjalanan, suara sungai di Tangkahan, orangutan di hutan, dan cerita kecil yang membuat kami terasa seperti teman lama.

Maria, Pavla, dan Hana datang sebagai tamu.
Tetapi mereka pulang sebagai bagian dari cerita yang akan selalu aku ingat.

Dan mungkin, harapan untuk Sumatra memang bisa tumbuh dari perjalanan-perjalanan sederhana seperti ini.

Perjalanan yang membuat wisatawan tidak hanya melihat alam, tetapi juga belajar mencintai manusia dan kehidupan di baliknya.

*Penulis/Editor: Damayanti Sinaga
Tour Guide Sumatra

Lake Toba Local Encounters A Beautiful Day on Samosir with Claire

  Some journeys are memorable because of the places we visit. Others become special because of the people we meet, the stories we hear, and ...