Tampilkan postingan dengan label Danau Toba. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Danau Toba. Tampilkan semua postingan

Jangan Lewatkan Kampung Girsang: Pesona Sawah, Bukit, dan Tradisi Batak

Simalungun, NINNA.ID-Bayangkan sebuah kampung yang memeluk bukit hijau dengan sawah-sawah bertingkat yang ditatah rapi di lereng-lerengnya — sebuah karya manusia yang seolah menjadi tangga menuju langit.

Inilah Kampung Girsang, sebuah keajaiban hidup yang tak kalah menakjubkan dari teras sawah Cordillera di Filipina.

Kampung Girsang bukan hanya sebuah destinasi wisata; ia adalah napas yang memberi kehidupan bagi manusia dan alam.

Di sinilah, setiap jengkal tanah adalah saksi bisu perjuangan para petani yang menenun harapan dengan tangan mereka sendiri.

Sawah bertingkat di Sitombom dan Gala-Gala tidak dibangun dalam semalam, tetapi lahir dari gotong royong generasi demi generasi yang tak mengenal lelah.

Seperti yang terjadi di Cordillera Filipina, sawah bertingkat di Kampung Girsang adalah mahakarya yang menaklukkan medan terjal.

Dengan kemiringan yang menantang, para petani di Girsang mengguratkan sawah-sawah pada kontur alam, menjaga humus agar tidak hanyut saat hujan turun.

Mereka membangun pematang yang menjadi benteng bagi tanah, air, dan kehidupan. Mereka menanam padi dengan iringan senandung marsiadapari — sebuah tradisi gotong royong yang menjadi denyut nadi kampung ini.

Di sinilah kamu bisa menyaksikan sendiri bagaimana budaya bertani bukan sekadar aktivitas ekonomi, melainkan jalan hidup.

Para petani di Girsang menanam bukan hanya untuk perut mereka sendiri, tetapi juga untuk kita semua — karena di sanalah terletak kesadaran: bahwa setiap butir nasi yang kita nikmati, ada tetes keringat petani yang menghidupinya.

Saat kamu menapaki pematang sawah yang hijau zamrud, kamu akan merasakan kehadiran leluhur yang mengajarkan kita untuk hidup selaras dengan alam.

[caption id="attachment_35804" align="alignnone" width="590"]Mempertimbangkan: Mak Ober, petani di Kampung Girsang 1 sedang mempertimbangkan apakah padinya sudah layak untuk dipanen atau harus menunggu beberapa hari lagi. Pemandangan sawah padi buat suasana hati tentram. (foto: Damayant) Mempertimbangkan: Mak Ober, petani di Kampung Girsang 1 sedang mempertimbangkan apakah padinya sudah layak untuk dipanen atau harus menunggu beberapa hari lagi. Pemandangan sawah padi buat suasana hati tentram. (foto: Damayant)[/caption]

Tradisi yang terpatri dalam Rumah Batak yang kokoh tanpa paku, diukir dengan cinta dan kebijaksanaan, mengingatkan kita betapa pentingnya menjaga harmoni antara manusia, alam, dan budaya.

Kampung Girsang adalah bagian tak terpisahkan dari Geopark Kaldera Toba — sebuah warisan geologi dan budaya yang diakui dunia.

Status ini bukan sekadar label, melainkan pengakuan bahwa tempat ini memiliki nilai universal bagi umat manusia. Namun, status ini hanya bisa dipertahankan jika kita semua ikut serta menjaga dan menghargai warisan yang ada.

Jangan biarkan sawah-sawah ini kering karena keegoisan kita yang menganggapnya hanya pemandangan untuk difoto. Jangan biarkan generasi muda lupa cara bertani, lalu sawah berubah menjadi lahan yang ditinggalkan.

Seperti teras sawah di Ifugao, sawah di Kampung Girsang membutuhkan air yang mengalir, tenaga yang tulus, dan cinta yang tak kenal pamrih.

Saat kamu berkunjung, datanglah bukan hanya sebagai turis yang mengambil gambar, tetapi juga sebagai sahabat yang memahami: di sinilah, kehidupan manusia bergantung pada keseimbangan alam.

Datanglah ke Kampung Girsang. Hirup udara segar di Bukit Simumbang, rasakan aroma kopi yang menenangkan, dan lihat bagaimana manusia bisa hidup berdampingan dengan alam.

Bawalah rasa ingin tahu, pulanglah dengan rasa hormat dan kagum. Karena di sinilah, setiap langkahmu adalah bagian dari perjuangan panjang untuk menjaga agar keajaiban hidup ini tetap lestari.

Jangan hanya menjadi penonton. Jadilah bagian dari cerita yang tak akan pernah selesai ditulis.

Penulis/Editor: Damayanti Sinaga

Perjalanan Menakjubkan Tamu dari Malaysia ke Danau Toba: Dari Kuala Lumpur ke Pesona Sumatra Utara

Perjalanan tamu kami dari Malaysia bernama Zali ke Danau Toba, berlangsung selama empat hari dari 19 November hingga 22 November 2024. Perjalanannya juga direkam dalam channel videonya.

Dengan latar belakang keindahan alam, budaya yang kaya, dan keramahan penduduk lokal, perjalanan ini menawarkan pengalaman yang tak terlupakan.

Hari 1: Dari Kualanamu ke Kebun Teh Sidamanik, Simarjarunjung

Pada hari pertama, Bang Zali tiba di Bandara Kualanamu dan dijemput oleh supir lokal, Abednego. Setelah menikmati makanan halal di sekitar bandara, perjalanan berlanjut menuju Kebun Teh Sidamanik di Kabupaten Simalungun. Tempat ini terkenal sebagai salah satu perkebunan teh terbesar di Indonesia dengan pemandangan hijau yang memukau.

Di perjalanan, Bang Zali sempat singgah di Bukit Simarjarunjung, yang menawarkan pemandangan spektakuler Danau Toba dari ketinggian 1.300 meter di atas permukaan laut. Hari ditutup dengan makan malam dan briefing singkat tentang kegiatan esok hari.

Hari 2: Menjelajahi Samosir dan Budaya Batak

Bang Zali memulai hari dengan sarapan di SiRulo Homestay, penginapan yang nyaman dengan pemandangan langsung ke Danau Toba. Agenda hari ini mencakup kunjungan ke Kampung Ulos Hutaraja, tempat pengrajin lokal memproduksi kain ulos yang indah, simbol budaya Batak.

Perjalanan dilanjutkan ke Tano Ponggol Bridge, jembatan penghubung Sumatra dengan Pulau Samosir, dan eksplorasi ke Bukit Sibea-bea yang terkenal dengan panorama perbukitan dan patung Kristus. Hari kedua diakhiri dengan petualangan ke Air Terjun Nai Sogop, destinasi tersembunyi yang mempesona dengan air terjun bertingkat dan kolam alami yang jernih.

Hari 3: Bukit Holbung 

Hari ketiga membawa Bang Zali ke Bukit Holbung, yang dikenal dengan hamparan bukit hijau bergelombang dan pemandangan danau yang menakjubkan. Setelah makan siang di sekitar Bukit Holbung, perjalanan berlanjut ke Aek Rangat Pangururan, sumber air panas alami di Samosir. Malam hari diisi dengan barbeque santai di SiRulo Homestay, memberikan waktu untuk bercengkerama atau beristirahat.


Hari 4: Menutup Perjalanan dengan Lintas Danau

Hari terakhir dimulai dengan menyeberang dari Pelabuhan Tomok di Samosir menuju Parapat dengan kapal feri. Perjalanan dilanjutkan ke Bandara Kualanamu melalui jalur tol. Meskipun singkat, perjalanan ini penuh dengan pengalaman yang memperkaya jiwa.

Kenangan yang Berharga

Perjalanan Bang Zali ke Danau Toba adalah contoh sempurna bagaimana alam, budaya, dan tradisi dapat menciptakan petualangan yang tak terlupakan. Danau Toba tidak hanya menawarkan keindahan pemandangan, tetapi juga kehangatan masyarakat lokal dan kekayaan budaya Batak yang autentik.

Bagi Anda yang ingin mengikuti jejak Bang Zali, Danau Tobamenanti dengan segala pesonanya!

Hubungi kami di nomor Whatsapp 085297732855

Google Maps

https://g.page/r/CYq2M0iYcNQ2EAI/

Website

https://easygotolaketoba.com

 Whatsapp

https://wa.me/6285297732855?text=Hallo Damayanti..."

 

 

Samosir Pilihan Terbaik bagi Kamu Berpetualang Jelajahi Eksotisme Danau Toba


Danau Toba sangat luas. Terdiri dari 8 kabupaten. Jika kamu hanya punya libur dua hari rasanya tak cukup untuk eksplorasi banyak hal di Danau Toba. Jika kamu berjiwa petualang maka Samosir yang terbaik untuk kamu jelajahi eksotisme Danau Toba.

Tujuh kabupaten lainnya juga menawarkan hal yang sama. Hanya, jika kamu ingin dapat pengalaman banyak dalam waktu singkat maka Samosir pilihan terbaik buatmu.

Ini bukan sekadar promosi Samosir belaka. Sejumlah teman dan tamuku juga menyatakan hal serupa.

Mereka mengatakan Samosir destinasi super lengkap. Beberapa di antaranya pengakuan dua wanita yang bekerja di sebuah organisasi kemanusiaan di Jakarta.

Di awal mereka sudah rencanakan liburan 3 hari 2 malam di Parapat. Akan tetapi, setelah mereka tiba di Parapat mereka berubah pikiran. Bisa jadi karena mereka ingin melihat seperti apa Samosir itu.

[caption id="attachment_30358" align="alignnone" width="571"]Kegiatan di Danau Toba 
Berpose dengan latar pemandangan Danau Toba bagian Ajibata[/caption]

Sekalipun sudah terlanjur membayar lunas kamar untuk dua malam, mereka berdua memutuskan untuk eksplor Samosir 2 hari 1 malam.

[caption id="attachment_30359" align="alignnone" width="571PANATAPAN SINAPURAN Panatapan Sinapuran Simanindo yang mereka singgahi selama di Samosir (foto: istimewa)[/caption]

Hari pertama mereka tiba di Parapat mereka istirahat karena tiba sudah sore. Esok paginya mereka mengeksplor Bukit Senyum di Motung Ajibata dan The Kaldera di Sibisa.

Di siang hari mereka mengeksplor Samosir berangkat dari Pelabuhan Kapal Kayu Tigaraja menuju Homestay Jabu SiRulo Samosir.

Sebelum tiba di penginapan, mereka sangat menikmati bersepeda motor yang juga ku awasi dari kaca spion sepeda motorku.

Ku ajak singgah ke Panatapan Sinapuran Simanindo. Saat itu memang cukup terik dan ada pengunjung selain kami.

Dari raut wajah mereka aku perhatikan mereka kagum melihat pemandangan di depan mereka.

Tak lama kemudian ku ajak turun menuju kampung tidak jauh dari Panatapan Sinapuran.

Warga setempat ramah dan mengizinkan kami untuk melihat-lihat, mengambil foto Rumah Batak.

[caption id="attachment_29147" align="alignnone" width="1280"]Panatapan Sinapuran Simanindo Deretan Rumah Batak yang terlihat dari Panatapan Sinapuran Simanindo (foto: Damayanti)[/caption]

Di kesempatan itu, aku jelaskan ke kedua wanita ini mengapa Rumah Batak bentuknya layaknya perahu. Mengapa ada patung kepala kerbau atau ukiran cicak di hampir tiap ukiran Rumah Batak.

Usai dari Panatapan Sinapuran lalu kami pun beranjak menuju Homestay Jabu SiRulo. Hanya sebentar istirahat. Kami pun melanjutkan perjalanan menuju Bukit Burung.

Karena salah satu dari mereka ku amati sangat kuat secara fisik dan tampaknya senang eksplorasi alam, ku putuskan bawa mereka ke Bukit Burung.

Tepat tebakanku! Keduanya sangat jatuh hati dengan spot ini.

Tiap kesini bawa kawan atau tamu aku biasanya hanya duduk memandang Danau Toba yang begitu memukau.

Senang saja duduk sampai bahkan berjam-jam sembari menikmati cemilan atau minuman.
Tapi bersama kedua wanita ini aku harus menjawab tantangan untuk trekking.

Kami trekking sampai 15 menit di jalur yang belum lama ini dibuka. Foto bisa menunjukkan jalur yang kami lalui.

Berulang kali mereka mengambil foto dari berbagai sudut dan berbagai pose.

Sekalipun akses ke Bukit Burung ada yang tidak begitu bagus mereka tampak sangat menikmati senja saat itu.

Bahkan berencana untuk camping di sana kelak jika kembali lagi ke Samosir.
Dari Bukit Burung kami turun menuju Pemandian Aek Rangat.

Hari itu karena hari libur, Pemandian Aek Rangat padat. Kami memutuskan untuk memilih tempat yang tidak begitu padat pengunjung.

Tapi sama saja, di tiap tempat nyaris sama padatnya.

Sembari menikmati berendam di Aek Rangat aku pun cerita tentang luar biasanya Danau Toba yang memiliki banyak hal untuk bisa dinikmati.

Tidak hanya air tawar Danau Toba, gunungnya menghasilkan air panas yang dapat menyembuhkan beragam penyakit kulit.

Dari Aek Rangat kami juga singgah untuk berburu oleh-oleh di Pusat Oleh-Oleh di Pangururan. Setelahnya kami kembali ke Homestay Jabu SiRulo.

Keesokan paginya, kegiatan mereka dilanjutkan dengan olahraga mengayuh perahu Kano.


NAIK KANO di sirulo Kedua tamu mendayung perahu Kano di Danau Toba di Pantai SiRulo (foto: Damayanti)[/caption]

Mereka sangat menikmati mengayuh perahu Kano hingga jauh dari pandangan mataku.

Rasanya mereka sudah terbiasa mengayuh perahu Kano.

Seusai menikmati mengayuh perahu Kano, mereka pun sarapan dan siap-siap untuk kembali ke Parapat lalu menuju Kualanamu.

[caption id="attachment_30361" align="alignnone" width="571"]MIE GOMAK DI SIRULO 
Menu sarapan di Homestay Jabu SiRulo (foto: istimewa)[/caption]

Setelah tiba Kualanamu dan bahkan tiba di Jakarta, mereka mengatakan mereka tidak menyesal telah memutuskan untuk ganti rencana perjalanan mendadak.

[caption id="attachment_30362" align="alignnone" width="571"]SARAPAN DI SIRULO Menu sarapan di Homestay Jabu SiRulo (foto: istimewa)[/caption]

Sekalipun mereka terlanjur bayar kamar untuk 2 malam di Parapat dan terpaksa harus mengeluarkan uang tambahan untuk kamar di homestay, menyebrang dan rental sepeda motor, mereka puas.

[caption id="attachment_30366" align="alignnone" width="571"]Pemanandangan di Pantai SiRulo Pemanandangan di Pantai SiRulo[/caption]

Mereka puas bisa nikmati petulangan jelajahi eksostisme Danau Toba.

Mereka mengatakan dari tiga kabupaten yang mereka lintasi Simalungun, Toba dan Samosir, pilihan terbaik mereka adalah Samosir.

[caption id="attachment_30363" align="alignnone" width="1600"]GISELE Ayu dari Jakarta Kedua tamu dari Jakarta tiba di Kualanamu dan menyatakan sangat menyukai Samosir (foto: istimewa)[/caption]

Samosir menyuguhkan paket lengkap bagi mereka berdua yang senang berpetualang.

Bisa eksplorasi Rumah Batak di Sinapuran Simanindo, trekking ke Bukit Burung, berendam di Aek Rangat Pangururan, mendayung perahu Kano di Pantai SiRulo dan menikmati menjelajahi Samosir dengan bersepeda motor. Mereka rasa itu sangat seru dan pengalaman tak terlupakan!

Penulis: Damayanti Sinaga
Editor: Damayanti Sinaga

ASDP Wajibkan Penggunaan e-Money di Kawasan Danau Toba

 


Terbit di sini

PT

ASDP Wajibkan Penggunaan e-Money di Kawasan Danau Toba

NINNA.ID – Selama liburan wisatawan membanjiri pelabuhan-pelabuhan di Kawasan Danau Toba, khususnya di Pelabuhan Kapal Ferry Ihan Ajibata dan Ambarita. Volume penumpang terus meningkat dari tahun ke tahun.

Pada puncak liburan, PT ASDP (Angkutan Sungai, Danau dan Penyeberangan) menghadapi tantangan untuk memberikan pelayanan prima kepada para wisatawan yang hendak menyeberang ke Samosir.

Syukurlah, pemerintah melalui Bank Indonesia (BI) mendorong penggunaan e-money atau uang elektronik. Dengan demikian, transaksi pembayaran tiket penyeberangan jadi lebih praktis. Para penumpang tidak perlu repot untuk menyediakan uang tunai saat antrian.

Operator Pelabuhan Ferry juga tidak perlu dipusingkan untuk mempersiapkan uang kembalian saat penumpang membeludak. Ini mengurangi beban kerja dinas perhubungan ketika wisatawan membanjiri pelabuhan.

PT ASDP Indonesia telah menerapkan cashless ticketing sejak 5 Juli 2021 di pelabuhan-pelabuhan Kapal Ferry di Kawasan Danau Toba. Cashless ticketing merupakan istilah pembayaran tiket tanpa uang tunai melainkan secara digital atau elektronik.

Kabid Dinas Perhubungan Kabupaten Samosir, Rikardo Sidabutar mengatakan, sosialisasi pembayaran tiket secara digital telah dilaksanakan sejak tahun lalu. Para pemangku kepentingan bersama para operator Ferry telah sepakat.

Sepakat untuk mensosialisasikan kepada publik mengenai aturan baru tersebut. Masa kampanye mengenalkan metode pembayaran baru lewat e-money menjadi tantangan bagi PT ASDP.

Proses peralihan ini mendatangkan pujian dan keluhan dari masyarakat. Bagi mereka yang sudah terbiasa dengan metode pembayaran cashless ticketing memuji PT ASDP dalam hal ini. Sebaliknya, bagi mereka yang tidak biasa dan tidak mengerti sama sekali mengeluh dengan metode pembayaran terbaru ini.

Manfaat Pembayaran Digital
Phantom Siahaan (49), wisatawan dari Medan, memuji upaya operator Pelabuhan Ihan Ajibata dan Ambarita. Ia mengatakan, metode pembayaran e-money lebih praktis.

Selama ini ia sudah merasakan sendiri manfaatnya menggunakan e-money yang biasa disebut kartu tol. Kartu ini sangat membantu karena ia tidak perlu mempersiapkan uang tiap kali melintas di jalan tol.

“Aku sudah biasa pakai kartu tol (Kartu Brizzi). Selalu sediakan saldo di kartu. Jadi, waktu tahu pembayaran tiket Kapal Ferry sekarang sudah cashless, aku siap saja sesuaikan. Ini cara yang bagus dan praktis. Kerenlah di kampung-kampung pun sudah pakai kartu tol bayar tiket kapal,” ujar Phantom memuji penggunaan e-money.

Wisatawan lain, Allin (38) yang juga warga Medan, menyampaikan hal serupa. Penggunaan uang elektronik ini membuat perjalanan liburan lebih praktis. Sebelum pakai uang elektronik, ia harus persiapkan uang pas untuk pembayaran tiket Kapal Ihan Batak.

Meski demikian, berdasarkan pengamatan PT ASDP, masih banyak masyarakat yang belum mengerti tentang pembayaran digital. Pengguna kartu e-money masih terbilang minim. Ditambah lagi penyediaan top up pulsa masih terbatas.

Pegawai PT ASDP menerangkan, salah satu kesulitan yang hingga kini masih dihadapi para penumpang di sekitar Pelabuhan Ambarita hanya satu bank yang menyediakan fasilitas top up yakni BRI.

“Tantangannya masih banyak masyarakat yang belum mengerti gunakan e-money. Selain itu, fasilitas penunjang e-money kan agak susah di pedesaan seperti di Ambarita,” terang Rikardo, Kepala Bidang ASDP Dinas Perhubungan (Dishub) Samosir.

Kampanye Cashless Ticketing Berlanjut
Sampai sekarang PT ASDP Indonesia terus mengkampanyekan metode pembayaran non tunai di pelabuhan-pelabuhan PT ASDP sepanjang Kawasan Danau Toba. Kampanye tersebut dilakukan dengan menginformasikan melalui akun sosial media, penjelasan atau pendekatan secara langsung kepada para pelanggan.

Kampanye juga dilakukan PT ASDP lewat banner, spanduk-spanduk yang mudah dibaca publik. Sejumlah agenda kerja pun diadakan agar semua operator Ferry siap untuk menerapkan pembayaran digital sepenuhnya.

Sejak pemberlakuan pembayaran digital ini dimulai, ASDP dan masyarakat merasakan perubahan positif. Masyarakat mengaku menaruh keyakinan pasti mengenai harga tiket.

Antrian menjadi lebih teratur jika penumpang membeludak. Pegawai Dinas Perhubungan pun mampu melayani masyarakat dengan tertib, terarah dan lebih prima.

Manfaat yang lebih spesifik lagi menurut Rikardo Sidabutar karena transaksi dijalankan secara online, pengarsipan manifes lebih terorganisir dan terjamin. Manifes merupakan dokumen yang berisi data penumpang, kendaraan, awak kapal, kargo dan lainnya yang masuk ke kapal.

Arsip ini dibutuhkan oleh ASDP sebagai historis data berangkat atau perginya Kapal Ferry. Apalagi selama masa pandemi pada 2021 hingga 2022 pemberlakuan cashless ticketing mengurangi kontak secara fisik. Dengan demikian, turut menekan penyebaran virus Corona.

Sejak metode baru dimulai, pembelian tiket secara tunai tidak diterima sama sekali. Bagi mereka yang tidak punya e-money, ASDP menolong para penumpang dalam hal pengadaan atau peminjaman e-money.

Penumpang tersebut akan diarahkan untuk membeli e-money seperti Brizzi atau kartu jenis lainnya. Alternatif lain, penumpang dapat meminjam atau memakai e-money yang disediakan oleh ASDP dan menggantinya sesuai nominal yang harus dibayarkan.

Dengan demikian, harapannya, perlahan-lahan masyarakat sudah menerima kebiasaan baru pembelian tiket lewat e-money, ujar Rikardo.

Sekalipun masih memberikan toleransi, bukan berarti toleransi tersebut akan terus berlanjut. ASDP menyatakan pembayaran digital keharusan. Bukan hanya ASDP, KemenPUPR sudah lebih dulu mewajibkan pembayaran digital kepada para pengguna jalan tol.

Menurut pegawai ASDP, selama ini kartu tol yang digunakan pengguna jalan tol menjadi salah satu instrumen pembayaran elektronik paling sering digunakan para penumpang di pelabuhan.

Setidaknya ada lima jenis kartu yang biasa dipakai masyarakat untuk pembayaran digital di Pelabuhan Ferry di antaranya Indomaret Card, BCA Flazz, BNI TapCash, dan BRIZZI. Para penumpang bebas menentukan jenis kartu electronic money mana yang mereka sukai.

Penetrasi E-Money Akan Bertambah
ASDP meyakini, penetrasi e-money akan terus meningkat jika penyedia top-up bertambah di sekitar pelabuhan-pelabuhan di Kawasan Danau Toba. Penyedia top up yang dimaksud seperti BRI, BNI, BCA dan bank lainnya yang ada di Kawasan Danau Toba.

Faktor lain yang dapat meningkatkan penetrasi tersebut yakni dukungan generasi muda. Manifes ASDP memperlihatkan umumnya generasi muda yang kerap liburan.

e-money 2
Pembayaran Tiket di Pelabuhan Ambarita gunakan e-money.(foto:damayanti)

Generasi ini bisa dijadikan sasaran kampanye penggunaan e-money. Mereka akan menjadi ujung tombak untuk menjelaskan ke orang tua atau anggota keluarga mereka untuk menerima penggunaan e-money.

Selain itu, merchant-merchant e-money perlu terlibat langsung mengedukasi publik cara menggunakan e-money. Mereka juga punya kemampuan besar memacu publik untuk segera beralih ke e-money dengan memberikan diskon atau penawaran menarik lainnya.

Selain itu, aturan yang mewajibkan masyarakat harus gunakan e-money diyakini akan berdampak besar. Penggunaan e-money meningkat setelah KemenPUPR mewajibkan pengguna jalan tol menggunakan e-money.

Hal yang sama dapat diikuti oleh instansi atau lembaga lainnya agar penetrasi e-money meningkat. Sebab, aturan menjadi pemicu masyarakat bertindak.

Dengan demikian, penggunaan e-money berlaku luas. Tidak hanya pada fasilitas Jalan Tol dan Pelabuhan ASDP. Tetapi dapat ditemukan di fasilitas-fasilitas lainnya di Kawasan Danau Toba. Entah itu di tiap destinasi wisata, hotel, restoran, toko-toko, sekolah, lokasi parkir dan lainnya. (Tulisan ini ditujukan kepada Bank Indonesia, untuk diikutsertakan dalam Lomba Karya Tulis Jurnalistik BI)

 

Penulis   : Damayanti Sinaga
Editor       : Mahadi Sitanggang

Mengenal Jahe Merah KYTa, Geoproduk dari Danau Toba

Jahe Merah KYTa, Geoproduk dari Danau Toba

Menge Mengenal Jh Mengenal Jahe Merah KYTa, Geoproduk daMeri Danau ToMenge

NINNA.ID – Tidak ada ekspresi surprise apalagi curiga di wajah Dame Maria Manurung, saat aku tiba di rumahnya. Sebelumnya, kami memang sudah komunikasi dan saling ingin kenal. Akhirnya, Rabu kemarin, aku langkahkan kaki ke Jalan Dwikora No 29 Sidorame, Medan, ke rumah produksi Jahe Merah KYTa, Geoproduk asli dari Danau Toba.

Kak Dame, begitu aku memanggilnya, menyambutku dengan senyum hangat. Walau berada di rumah produksi, aku tak merasakan aroma jahe di rumah itu. Bisa jadi karena produknya dikemas dengan sangat baik.

“Aku mulai usaha ini setelah anakku Anthony yang down sindrom meninggal. Selama pengobatan Anthony 3 tahun bersama kami, kami banyak memakai obat tradisional. Salah satunya jahe merah yang ternyata sangat banyak manfaatnya,” jelas Dame menceritakan dasar ia memilih jahe merah sebagai produk unggulan.

Awalnya, Dia Berniat Untuk Produksi Skala Kecil Bermodalkan Rp500 Ribu, Dengan Peralatan Seadanya Berupa Blender Dan Lesung. Belakangan, Bisnis Ini Cukup Berkembang Dan Mendapat Tanggapan Positif Dari Banyak Pihak.

Perlahan-lahan ia mulai membeli mesin-mesin dengan mencicilnya. Belakangan ini, ia mendapatkan bantuan dari Institut Teknologi Del berupa berupa mesin pencuci jahe sekaligus pengupas jahe.

Dame mengatakan, untuk bahan pembuatan jahe merah KYTa dibeli dari Kelurahan Pematang Raya. Di Kabupaten Simalungun itu, pasaran jahe merah lumayan terjangkau. Penduduk sekitar di daerah tersebut, kata Dame, malah sering menawarkannya agar memborong jahe mereka.

“Sering para petani mendesak ke saya karena butuh duit. Sementara bahan baku saya masih ada. Kalau ada orderan untuk jahe merah mentah datang entah dari mana, saya pun mau duluankan duit ke petani. Selebihnya saya yang urusi untuk mendistribusikannya ke pihak yang membutuhkan,” Dame sekilas menceritakan kesulitan yang dihadapi para petani saat panen jahe membeludak.

Hubungan yang baik dengan petani itu, terkadang menjadikannya, sesekali sebagai distributor jahe merah mentah. Namun niat utamanya tetap berbisnis bubuk Jahe Merah KYTa, karena usaha yang sudah dirintisnya sejak 5 tahun lalu itu lebih menjanjikan. Apalagi dia beranggapan, usahanya itu berperan penting untuk kesehatan banyak orang.

Wanita yang juga berkecimpung pada dunia pendidikan mengatakan, senang bisa berkontribusi dalam menyerap hasil bumi di Simalungun. Penyerapan hasil bumi tersebut harapannya berdampak terhadap penduduk lokal di Kawasan Danau Toba secara ekonomi.

Saat ini, produksi Jahe Merah KYTa berlokasi di Medan. Namun, mengingat produknya itu berbahan asli dari kawasan Geopark Kaldera Toba (sehingga disebut Geoproduk), dia berkeinginan membangun usaha Jahe Merah KYTa di salah satu kawasan Danau Toba.

Untuk saat ini sejumlah kendala yang ia hadapi antara lain terkait pemasaran. Ia berharap bisa menemukan rekan bisnis yang bisa diajak kerjasama menjadi reseller, distributor dan agen pemasaran guna meningkatkan penjualannya.

Dalam waktu dekat ini, ia berharap lulus BPOM. Dengan demikian, produknya sudah bisa diekspor rutin ke luar negeri. Ia sudah menjalani kurasi produk. Ada pihak yang siap menjadi agen distributornya di luar negeri.

“Tinggal menunggu kabar dari BPOM. Setelahnya, produk KYTa siap dipasarkan ke luar negeri secara rutin,” jelasnya.

Beberapa tahun terakhir, ia sudah pernah mengirim sejumlah produknya ke beberapa tempat. Bahkan ada pria suku Batak yang tinggal di Amerika Serikat memesan produknya. Ia pun senang mendapat testimoni bagus dari pria bermarga Sitorus tersebut.

Selama ini secara pemasaran, produk ini didistribusikan ke rumah tangga, kedai kopi, warung kelontong, grosir, dan diperkenalkan ke instansi pemerintah, kesehatan dan perbankan. Harganya bervariasi sesuai dengan kemasan. Ukuran saset kecil sekali seduh hanya Rp5000. Untuk informasi mengenai produk atau mau order produk ini bisa menghubungi Dame Manurung melalui 0853-7062-6383.

Pantai Kasih Parapat

 Pantai Kasih Parapat

Pantai Kasih merupakan salah satu pantai yang dibuka untuk umum di Jalan Marihat Parapat, Simalungun. Dari titik nol Parapat Pantai Bebas sekitar 1,5 km lagi menuju pantai ini. Pantai ini dikelola oleh masyarakat lokal. Di pantai ini juga tersedi wahana Waterfun.

Pantai Kasih Parapat

Dari namanya kasih, pengelola berharap para tamu bisa merasakan kasih selama berkunjung ke pantai ini. Ditambah dengan suasana pantai yang asri. Di siang hari saat cuaca cerah merupakan momen yang cocok untuk mengabadikan foto. Di sore hari juga, saat matahari akan terbenam. Suasana hati pasti damai saat melihat matahari terbenam di pantai.

Dari pantai ini kamu bisa Pantai Bebas, hutan di sekeliling Parapat, memandang kapal-kapal yang berlewatan di danau. Melihat barisan hotel, restoran dan aktivitas masyarakat di sepanjang pantai.

Pantai ini sudah lama ada. Dahulu kala tahun 2000-an menjadi pantai favorit wisatawan. Saat pariwisata Parapat sangat jaya, pantai ini selalu dipenuhi pengunjung terutama pada saat akhir pekan dan liburan panjang. Pantai ini juga ramah terhadap anak-anak. Tidak perlu khawatir mengaja anak-anak berenang karena pantainya cukup dangkal buat mereka.

Pengelola Pantai Kasih mengatakan pihaknya tidak menerapkan tiket masuk. Tapi dikenakan sewa tikar, harga bergantung ukuran tikar. Sewa ban Rp10ribu. Sewa bebek dayung Rp50ribu per jam. Ke toilet juga bayar. Untuk kendaraan Rp.20ribu. Harga ini mungkin akan berubah sewaktu-waktu bergantung kebijakan pengelola Pantai Kasih.

Biasanya pantai ini buka setiap Minggu atau hari-hari libur. Jam buka mulai  08.00 WIB hingga pukul 18.00 WIB. Objek wisata Water Fun Pantai Kasih buka setiap hari baik weekend maupun weekday. Waktu terbaik untuk berkunjung ke pantai ini tentunya Minggu. Sebab para pengunjung tengah ramai dan semua wahana air tersedia.

Akses ke pantai ini tidak sulit. Biasanya para pengelola pantai, khususnya Pantai Kasih akan menyambut dan menawarkan para tamu yang lewat gerbang Parapat untuk singgah ke pantai ini.        

Jika nanti saat liburan kamu terjebak macet selama di Parapat atau di Pelabuhan. Lantas jenuh dengan suasana macet, pantai ini paling cepat untuk kamu membebaskan diri. Yuk main ke pantai! Sebagai pengingat lagi, jangan buah sampah sembarangan ya kawan-kawan. Danau Toba itu milik kita bersama. 


Sudah terbit di https://www.ninna.id/pantai-kasih-parapat-yang-ramah-untuk-anak/

Jangan Lewatkan Kampung Girsang: Pesona Sawah, Bukit, dan Tradisi Batak

Simalungun, NINNA.ID -Bayangkan sebuah kampung yang memeluk bukit hijau dengan sawah-sawah bertingkat yang ditatah rapi di lereng-lerengnya ...