Tampilkan postingan dengan label Medan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Medan. Tampilkan semua postingan

Sebelas Hari Bersama Perempuan-Perempuan Hebat dari Eropa Timur Eksplor Sumatra

     

NINNA-Malam 4 Mei 2026, Bandara Kualanamu masih sibuk dan penuh suara orang berlalu-lalang. Aku berdiri menunggu tiga tamu spesial dari Slovakia dan Republik Czech. Tak lama kemudian, muncul tiga perempuan dengan koper besar dan wajah lelah setelah perjalanan panjang: Maria, Pavla, dan Hana.

Kami langsung berfoto bersama. Foto pertama dari perjalanan sebelas hari yang nantinya dipenuhi cerita, tawa, dan banyak kejutan kecil.

[caption id="attachment_37297" align="alignnone" width="1280"]DAMAYANTI_AIRPORT_PICK_UP Menjemput Maria, Pavla, dan Hana di Bandara Kualanamu bukan sekadar awal perjalanan, tapi awal dari sebelas hari cerita, tawa, dan persahabatan baru yang tumbuh di Sumatra. (foto ©Damayanti)[/caption]

Malam itu kami menuju hotel di Kota Medan. Awalnya suasana di mobil sedikit canggung, seperti orang-orang yang baru saling mengenal. Tetapi Maria mulai banyak bertanya, lalu percakapan mengalir begitu saja. Saat itu aku mulai merasa, perjalanan ini pasti akan menyenangkan.

Keesokan paginya kami memulai petualangan di Kota Medan. Kami mengunjungi Masjid Raya Al Mashun dan Istana Maimun. Saat tiba di masjid, ternyata sedang ada doa bersama dalam jumlah besar. Orang-orang memakai pakaian rapi dan suasananya terasa tenang dan khusyuk.

Di Istana Maimun, ada kejadian lucu. Beberapa anak magang diam-diam memperhatikan Maria, Pavla, dan Hana sambil berbisik, “Bule… bule…” Sampai akhirnya Maria diminta berfoto bersama. Dalam hitungan menit, tour leader kami berubah jadi bintang dadakan di halaman istana.

[caption id="attachment_37298" align="alignnone" width="960"]Istana Maimun_Maria bersama para siswa/students Di Istana Maimun, Maria langsung jadi bintang dadakan. Anak-anak magang heboh berbisik “bule… bule…”, lalu dalam sekejap Maria diajak berfoto di halaman istana. Suasana sederhana yang berubah jadi tawa dan cerita kecil yang tak terlupakan. (foto ©Damayanti)[/caption]

Perjalanan menuju Tangkahan cukup panjang. Di tengah jalan kami berhenti di sebuah kedai cafe di Langkat. Ternyata kami berempat sama-sama pencinta kopi.

Maria sangat suka espresso dan punya standar tinggi untuk secangkir kopi. Untungnya, kopi hari itu berhasil membuatnya tersenyum puas.

Sebelum lanjut jalan, kami membeli pisang dan mangga dari penjual buah pinggir jalan. Maria lalu membagikan pisang itu satu per satu kepada kami.

Dari situlah aku mulai mengajarinya beberapa kata Batak yang lucu. Salah satunya “bodat”. Kami tertawa sepanjang perjalanan hanya karena satu kata sederhana.

Dari situ aku sadar, pariwisata sebenarnya hidup dari hal-hal kecil.

Bukan hanya hotel mewah atau tempat terkenal. Tetapi dari kopi lokal yang diminum bersama, buah yang dibeli langsung dari petani desa, atau warung kecil yang tetap bertahan karena ada wisatawan datang. Saat wisatawan membeli produk lokal, uang itu ikut membantu kehidupan masyarakat sekitar.

Dan Maria benar-benar suka melakukan itu. Ia tidak hanya mencari tempat cantik untuk difoto, tetapi juga ingin mengenal orang-orang di balik tempat itu.

Saat tiba di Tangkahan, Pavla dan Hana langsung terkejut melihat jembatan gantung panjang yang harus kami lewati sambil membawa koper. Mereka tertawa campur takut.

Beberapa ibu datang membantu mengangkat barang kami. Hal kecil seperti itu sering membuat tamu asing kagum pada keramahan orang Sumatra.

[caption id="attachment_37300" align="alignnone" width="1280"]TANGKAHAN Suasana makan siang di pinggir sungai di Tangkahan
(foto ©Damayanti)[/caption]

Siang itu kami makan di pinggir sungai. Suara air dan pepohonan membuat makan siang sederhana terasa sangat istimewa.

[caption id="attachment_37299" align="alignnone" width="960"]Makan Siang di Tangkahan Maria mengambil makan siang sederhana di tepi sungai, ditemani gemericik air dan rindangnya pepohonan. Di tengah alam yang tenang, setiap suapan terasa lebih hangat, lebih hidup, dan lebih berkesan. (foto ©Damayanti)[/caption]

Lalu petualangan di Sungai pun dimulai.

Kami berjalan menuju air terjun, bermain air, lalu tubing menyusuri sungai. Kadang kami tertawa, kadang berteriak saat ban menghantam batu. Rasanya seperti kembali menjadi anak-anak.

Keesokan harinya kami pergi ke camp gajah. Maria dan Pavla ikut memandikan gajah bersama pawang. Wajah mereka terlihat sangat bahagia terkena cipratan air dan lumpur.

Dari Tangkahan kami melanjutkan perjalanan menuju Bukit Lawang dengan jeep 4x4. Jalan berlumpur membuat mobil berguncang keras dan kami terus tertawa sepanjang perjalanan.

Di Bukit Lawang, suara Sungai Bahorok terdengar sepanjang malam.

Pagi berikutnya kami trekking masuk ke hutan Taman Nasional Gunung Leuser untuk mencari orangutan. Kami berjalan di bawah pohon-pohon besar yang tinggi sekali. Saat seekor orangutan muncul di atas pohon, semuanya langsung diam. Pavla dan Hana menatap penuh kagum. Rasanya seperti masuk ke dunia lain.

Hari-hari berikutnya terus mengalir seperti cerita panjang.

Kami menikmati udara dingin Berastagi, melihat Gunung Sinabung dari kejauhan, dan minum kopi di Erdillo Café.

[caption id="attachment_37317" align="alignnone" width="1280"]ERDILO CAFE-DAMAYANTI TOUR GUIDE SUMATRA Erdilo Coffee tempat nongkrong kopi di kai gunung Sinabung (foto: istimewa)[/caption]

Lagi-lagi Maria puas dengan espresso yang harum dan kuat rasanya. Bahkan ia sampai berfoto dengan latar Gunung Sinabung sambil memegang secangkir kopi.

[caption id="attachment_37301" align="alignnone" width="1600"]GUNUNG SIBAYAK SIBAYAK VOLCANO Subuh di Gunung Sibayak, kami mulai pendakian pukul empat pagi dalam gelap dan dingin yang menusuk.[/caption]

Subuh berikutnya kami mendaki Gunung Sibayak pukul empat pagi.

Udara dingin menusuk kulit. Jalan menanjak membuat napas terasa berat. Dalam gelap, kami hanya ditemani cahaya senter. Tetapi justru di perjalanan itu kami belajar bahwa mendaki gunung bukan hanya soal mencapai puncak, melainkan juga melawan rasa takut dan lelah dalam diri sendiri.

Setelah itu kami mengunjungi Desa Budaya Dokan. Rumah-rumah adat tua berdiri kokoh tanpa paku. Kayu-kayu tua, atap ijuk, dan kepala kerbau di ujung rumah membuat kami seperti kembali ke masa ratusan tahun lalu.

[caption id="attachment_37303" align="alignnone" width="1280"]DESA DOKAN KARO Desa Dokan menyambut kami dengan suasana tenang dan rumah adat Siwaluh Jabu yang berdiri kokoh sebagai saksi sejarah budaya Karo. (foto ©Damayanti)[/caption]

Lalu kami menuju Air Terjun Sipiso-piso. Dari sana Danau Toba terlihat sangat luas dan tenang.

Setelah itu kami bertemu teman-teman Maria di sebuah kafe dekat Danau Toba. Aku heran mengapa Maria punya kenalan di mana-mana. Tetapi lama-lama aku sadar, ia memang tipe orang yang mudah berteman dengan siapa saja.

Saat tiba di Pulau Samosir, suasana perjalanan berubah lebih tenang.

Danau Toba seperti membuat semua orang melambat.

Besoknya kami mengunjungi Huta Siallagan dan aku mulai bercerita tentang adat Batak, kursi batu Raja Batak, serta filosofi cicak dan payudara yang menghiasi rumah adat Batak Toba.

Aku menjelaskan bahwa cicak melambangkan orang Batak, sementara bentuk payudara melambangkan pentingnya keturunan dan penghormatan kepada ibu atau kampung halaman.

Maria, Pavla, dan Hana mendengarkan dengan serius. Aku senang melihat mereka benar-benar menghargai cerita budaya yang kubagikan.

Dari sana kami menuju Kampung Ulos Hutaraja, kampung leluhurku. Sebelum tiba, aku sengaja menunjukkan Tugu Simanihuruk, salah satu tugu paling megah di Samosir.

[caption id="attachment_37318" align="alignnone" width="960"]TUGU MEWAH SIMANUHURUK DI SAMOSIR-DAMAYANTI TOUR GUIDE SUMATRA Berhenti sejenak di Tugu Simanihuruk, salah satu tugu paling megah di Samosir (foto ©Damayanti)[/caption]

Setelah minum kopi bersama, aku mengajak mereka ke Rumah Belajar Hutaraja yang pernah kubuka di rumah warisan nenek buyutku.

[caption id="attachment_37310" align="alignnone" width="1200"]RUMAH BELAJAR HUTARAJA-DAMAYANTI TOUR GUIDE SUMATRA Kami berfoto bersama di Rumah Belajar Hutaraja, rumah belajar yang pernah ku buka namun akhirnya ku tutup karena tidak mampu melanjutkan operasionalnya (foto ©Damayanti)[/caption]

Di rumah sederhana itu aku pernah mengajar anak-anak Bahasa Inggris agar mereka berani berbicara dengan wisatawan asing dan memiliki masa depan lebih luas.

 

Perjalanan kami lanjut ke Air Terjun Nai Sogop, meski hujan sempat menghambat langkah kami. Karena lapar, kami akhirnya makan siang di Panorama Tele.

Maria yang baru pertama kali ke sana tampak sangat antusias mengabadikan pemandangan, bahkan kembali menjadi pusat perhatian anak-anak yang meminta foto bersama.

[caption id="attachment_37320" align="alignnone" width="1600"]PANORAMA TELE_DAMAYANTI_TOUR GUIDE SUMATRA Pemandangan indah di sky bridge Panorama Tele (foto ©Damayanti)[/caption]

Setelah hujan reda, kami akhirnya tiba di Nai Sogop. Walau air terjun tampak lebih coklat akibat hujan deras, Maria dan Pavla tetap menikmati suasana alam yang liar dan menenangkan itu.

[caption id="attachment_37319" align="alignnone" width="960"]AIR TERJUN NAI SOGOP-DAMAYANTI TOUR GUIDE SUMATRA Hujan deras membuat Air Terjun Nai Sogop tampak lebih coklat, tetapi suasana alamnya tetap memikat hati Maria dan Pavla. (foto ©Damayanti)[/caption]

Keeksokan harinya adalah hari istirahat panjang bertepatan saat itu Hari Minggu. Dari kami, ada yang ibadah, ada yang sibuk dengan laundry dan berbagai macam kesibukan lainnya.

Perjalanan terus berlanjut menuju Padang Sidempuan dan Bukittinggi.

[caption id="attachment_37302" align="alignnone" width="960"]FOTO BERSAMA WARGA KAMPUNG GIRSANG Berfoto bersama warga Kampung Girsang, kami disambut dengan kehangatan sederhana yang terasa tulus. (foto ©Damayanti)[/caption]

Akan tetapi sebelumnya kami berhenti di Kampung Girsang, di sinilah tempat tinggalku sekarang. Sebagai seorang yang tak mungkin mendapat warisan tanah, aku mesti memikirkan masa depanku sendiri.

Sengaja kuajak Maria melihat tempat tinggalku, sebuah gubuk kecil di Kampung Girsang. Aku bercerita bahwa saat tidak membawa tamu, aku sibuk mengurus usaha kecil yang baru saja kubangun, yakni usaha kemiri.

[caption id="attachment_37321" align="alignnone" width="1600"]USAHA KEMIRI GIRSANG_DAMAYANTI TOUR GUIDE SUMATRA Kujak Maria melihat gubuk kecilku di Kampung Girsang, tempat aku membangun mimpi kecil lewat usaha kemiri. (foto ©Damayanti)[/caption]

Bukan untuk menjadi kaya, tetapi agar aku bisa bertahan hidup di kampung kecil dengan pergerakan ekonomi yang terbatas ini. Sejak 2018, aku memilih tinggal di Danau Toba dan fokus mempromosikannya melalui pekerjaanku sebagai travel writer dan tour guide.

Namun bagiku, menjadi pemandu wisata bukan hanya soal membawa wisatawan berkeliling, melainkan juga tentang membangun sesuatu yang berarti bagi masyarakat lokal dan masa depanku sendiri.

Karena itu aku mulai bermimpi mengembangkan Kampung Girsang sebagai kampung wisata kecil yang hidup dari kekuatan masyarakatnya sendiri. Di sini ada kebun kopi, cengkeh, nanas, hingga usaha kecil seperti kopi sangrai, dan lainnya yang dijalankan warga.

Sedikit demi sedikit aku mencoba membantu lewat hal-hal kecil yang bisa kulakukan, termasuk mendukung kelompok pembibitan kopi yang baru kami mulai tahun ini.

Bagiku, perjalanan ini bukan hanya tentang wisata, tetapi tentang memperlihatkan sisi nyata Danau Toba yakni kehidupan masyarakat lokal, mimpi-mimpi kecil, dan harapan agar kampung ini tetap hidup.

Setelah berkunjung ke kampung ini, kami beranjak menuju Padang Sidempuan. Sebelumnya, kami berkunjung ke Aek Rangat Sipoholon. Selain itu, kami menikmati makan siang di Café Gorga, Tapanuli Utara.

[caption id="attachment_37322" align="alignnone" width="1280"]HOT SPRING SIPOHOLON_DAMAYANTI-TOUR GUIDE SUMATRA Menjelajahi kehangatan alam dan tradisi unik di Aek Rangat Sipoholon.(foto ©Damayanti)[/caption]

Lalu kami menuju Hotel Mega Permata di Padang Sidempuan.
Keesokan harinya, kami lanjut perjalanan menuju Bukit Tinggi. Seperti biasa, kami akan berhenti di sejumlah tempat yang menarik untuk dikunjungi.

Kami berhenti di tempat menempah parang atau pisau. Di sini rata-rata masyarakat memiliki usaha seperti ini. Aku pun tertarik untuk membeli sebilah pisau tajam yang cocok untuk ku pakai mengupas buah.

[caption id="attachment_37312" align="alignnone" width="1280"]PEMBUATAN PISAU DI SEKITAR PADANG SIDEMPUAN -DAMAYANTI TOUR GUIDE SUMATRA Lokasi pembuatan pisau ataau oarang di sekitar Padang Sidempuan (foto ©Damayanti)[/caption]

Akan tetapi, seperti biasa, Maria punya cara untuk membuatku tertawa. Dia bilang pisau itu akan ku pakai jaga diri siapa tahu ada yang berniat jahat padaku. Maria memang selalu punya pernyataan yang buatku senyum. Setelahnya, kami lanjutkan perjalanan menuju Equator.

Tetapi sebelum tiba, kami mendengar ada bunga bangkai amorphophallus titanium di tengah jalan yang sedang mekar. Saat itu kami melihat bunga itu menarik banyak perhatian warga yang lalu lalang. Kami sempat berhenti di tengah gerimis dan mengabadikan gambarnya.

[caption id="attachment_37313" align="alignnone" width="960"]BUNGA BANGKAI amorphophallus titanum Bunga Bangkai Amorphophallus Titanum (foto ©Damayanti)[/caption]

Berikutnya kami tiba di Taman Wisata Equator Bonjol, kami berhenti di garis khatulistiwa untuk berfoto bersama. Kami semua juga mendukung para pedagang kaos yang selalu tak pernah jauh dari kami. Bolak-balik membujuk kami membeli kaosnya.

Aku yang sudah punya stok 3. Maria juga sudah punya banyak stok, akhirnya membeli kembali. Bukan karena butuh tapi kami anggap itu cara kami mendukung para pedagang. Kaosnya bisa kami berikan buat orang terdekat kami.

[caption id="attachment_37323" align="alignnone" width="1280"]GARIS KHATULISTIWA DI TAMAN BONJOL SUMBAR_DAMAYANTI-TOUR GUIDE SUMATRA Berfoto di garis khatulistiwa di Taman Wisata Equator Bonjol di saat yang sama para pedagang mendekati kami, membujuk kami untuk membeli barang dagangan mereka. (foto ©Damayanti)[/caption]

Setelahnya, kami menuju Hotel Santika Dyandra Bukit Tinggi. Aku sendiri menginap di salah satu penginapan kawan HPI Bukit Tinggi bernama Erwin. Banyak pemandu wisata maupun supir menginap di sini.

[caption id="attachment_37327" align="alignnone" width="1280"]PAGARUYUNG SUMBAR-DAMAYANTI TOUR GUIDE SUMATRA Memandang megahnya Istano Basa Pagaruyung (foto ©Damayanti)[/caption][caption id="attachment_37325" align="alignnone" width="1280"]Panorama Sianok_DAMAYANTI-TOUR GUIDE SUMATRA Panorama Sianok (foto ©Damayanti)[/caption]

Keesokan harinya, kami menuju Panorama Sianok, Istana Pagaruyung, dan terakhir kami mengunjungi Pusat Oleh-Oleh Kiniko Kopi yang di sini kita bisa lihat pengelolaan kopi.
Dan tanpa terasa, tibalah hari terakhir yakni hari kesebelas.

[caption id="attachment_37305" align="alignnone" width="960"]KINIKO_KOPI_WESTSUMATRA Kami berkunjung ke Rumah Produk Kopi KINIKO (foto ©Damayanti)[/caption]

Kami menuju Bandara Padang melalui Lembah Anai. Jalan terasa lebih sunyi dibanding hari pertama karena akhirnya berpisah dengan mereka. Sebelas hari terasa sangat cepat.
Perjalanan ini bukan hanya tentang tempat-tempat indah di Sumatra.

[caption id="attachment_37326" align="alignnone" width="960"]PERPISAHAN DENGAN MEREKA-DAMAYANTI TOUR GUIDE SUMATRA Perpisahan dengan mereka di Bandara Minangkabau, Padang (foto ©Damayanti)[/caption]

Tetapi tentang tawa di dalam mobil, di perjalanan, kopi yang diminum bersama, pisang yang dibagi di tengah perjalanan, suara sungai di Tangkahan, orangutan di hutan, dan cerita kecil yang membuat kami terasa seperti teman lama.

Maria, Pavla, dan Hana datang sebagai tamu.
Tetapi mereka pulang sebagai bagian dari cerita yang akan selalu aku ingat.

Dan mungkin, harapan untuk Sumatra memang bisa tumbuh dari perjalanan-perjalanan sederhana seperti ini.

Perjalanan yang membuat wisatawan tidak hanya melihat alam, tetapi juga belajar mencintai manusia dan kehidupan di baliknya.

*Penulis/Editor: Damayanti Sinaga
Tour Guide Sumatra

Penipuan Kerja PT X, di Medan Banyak Penipu

 Penipuan Kerja PT X, Di Medan Banyak Penipu


Sepulang dari Papua, aku menggebu-gebu cari kerja supaya bisa kuliah. Ku lamar berbagai pekerjaan. Dapatlah sebuah perusahaan biro jasa. Aku tidak ingat persis namanya. Yang pasti perusahaan tersebut sama dengan “PT.GIM” yang sering dimuat di lowongan kerja di koran-koran. Aku yang baru tamat SMA dan buru-buru kerja terlalu polos. Gitu sampai di sana, aku diimingi- imingkan gaji Rp2juta. Wah senang banget aku. Tapi aku gak sadar aku dijebak. Biar bisa mulai kerja aku harus bayar Rp.1,5juta untuk beli perlengkapan seperti seragam, badge nama, dan sebagainya. Namun, karena ada pemotongan ini itu akhirnya aku diminta Rp.1juta.

Tak pikir panjang, aku minta sama mama uang Rp1juta. Mama pinjam duit itu dari orang. Aku janji bakal kembalikan. Senang sekalilah aku gitu sampai di sana. Eh tak taunya bukannya kerja aku. Aku malah disuruh muat lowongan kerja agar menjebak orang lain sama seperti aku dijebak. Di situ baru aku sadar aku sudah ditipu. Sakit bukan kepayang. Aku minta uang itu dikembalikan dan aku gak mau lakukan pekerjaan seperti itu. Eh malah mereka ancam aku balik.

Lalu mereka bilang mereka punya backing di kepolisian.

 

"Pergi lapor sana. Kami itu dilindungi kepolisian. Biar tahu saja kau! Percuma kau lapor," katanya dengan suara lantang. Kami beradu mulut sampai keluarlah kata-kata binatang. Mau lapor ke polisi, sudah tahulah kita gimana nanti. Memanglah dunia ini dikuasai Setan 1 Yohanes 5:19.

 

Itulah awal aku merasakan Ngerinya Medan, Dunia Setan ini! Aku stres berat. Marah, sedih, dan gusar melihat Kota Medan yang penuh dengan penipu. Berat kali aku mau pulang ke rumah setelah ditipu. Aku berpikir keras cara kembalikan uang mama.

 

Gak sampai di situ saja. Ketika pulangnya, aku nyaris dilarikan orang karena belum banyak kenal jalan. Tadinya aku nanya arah angkot menuju Perumnas Mandala. Yang ku tanya pura-pura baik mau antarkan aku ke arah angkot yang paling pas dengan sepeda motornya. Eh tahu-tahu aku dibawa ke arah Pancur Batu. Untung aku sadar lalu teriak hentikan sepeda motornya. Aku seketika lari dan cepat-cepat mencari arah menuju pulang. Syukur, aku berhasil selamat sampai rumah dengan muka malu dan perasaan tak enak hadapin mama.

 

Ini bagian kisah hidupku yang paling kritis ku hadapi--2 Timotius 3:1-5 ku akui sangat nyata di zaman sekarang. Tapi Alkitab bilang: Jangan Menyerah hadapi hidup yang begitu rumit saat ini. Dek Stefanus Radinal, kk juga punya pengalaman sama seperti yang kau rasakan. Tapi apa boleh buat perusahaan kek gini berjamur dimana-mana, tipu-menipu yang dikerjakan mereka.

https://wol.jw.org/id/wol/d/r25/lp-in/102004521?q=PENIPUAN&p=par

 

Kursus Bahasa Inggris dan Matematika di HEC

Kursus Bahasa Inggris dan Matematika di HEC

Hope Education Centre (HEC) merupakan Kursus Bahasa Inggris dan Bimbingan Belajar untuk anak SD-SMP. Kami juga membuka kursus untuk belajar membaca dan menulis. HEC sudah lama mendedikasikan diri di bidang Pendidikan dan Pengajaran. HEC berada di Jalan Garuda Raya No 10 Perumnas Mandala Deli Serdang, Sumatera Utara.

Jika Bapak/Ibu/Teman-Teman ingin anak atau sepupu Anda untuk kursus Bahasa Inggris, Matematika, atau baca tulis, silahkan kunjungi kami.

Mengapa harus dua bidang ini yang difokuskan:

Karena Bahasa Inggris dan Matematika itu  penting.

Mengapa bahasa Inggris itu penting? Pertanyaan yang simple untuk dijawab karena merupakan bahasa Internasional bahasa yang dapat kamu gunakan di kebanyakan tempat. Namanya saja sudah internasional. Apalagi ketika Anda jalan- jalan ke luar negeri tanpa bekal bahasa ini, rugi, deh! Kamu akan jadi ‘patung’ alias sulit berkomunikasi.

Matematika itu Ratunya Ilmu

Tahukah kamu matematika merupakan ratunya ilmu? Apa maksudnya? Ya, matematika merupakan pelajaran paling dasar yang digunakan untuk mempelajari pelajaran-pelajaran lain.

Tanpa pelajaran matematika, mungkin kita tidak akan bisa belajar ekonomi, akuntansi, manajemen, atau malahan pelajaran-pelajaran IPA seperti biologi kimia atau fisika. Dalam bidang yang bertolak belakang pun kita tetap butuh matematika baik di bidang IPA maupun IPS.

Jadi, yakin kamu tidak mau mempelajari matematika?

Tapi, jika belum lancar membaca dan menulis, bagaimana mungkin ikut Kursus Bahasa Inggris dan Matematika. Yuk, ajak saudara, kerabat, sepupu, atau anak-anak yang kamu kenal untuk kursus ke HEC.


Untuk kontak yang bisa dihubungi silahkan melalui No HP owner HEC 0813-6023-3601

Damayanti HP 0852-9773-2855


























 


Tentang Penulis atau Pemilik Blog

Tentang Penulis atau Pemilik Blog



Damayanti adalah mantan jurnalis Harian Analisa membidangi Ekonomi dan Keuangan. Dia lama menekuni karier di bidang pendidikan, menjadi guru Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) di sekolah swasta dan guru bimbel di beberapa tempat. Terjun ke dunia jurnalistik tanpa sengaja.

Awalnya ingin berkarier di dunia perbankan namun akhirnya memilih untuk menjadi staf redaksi di koran cukup ternama di Kota Medan. Semula bertugas untuk menerjemahkan berita ekonomi internasional. Selang setahun berlalu muncul keinginan untuk menulis dan meliput ke lapangan sebagai jurnalis.

Kecintaannya untuk menulis kedua topik Ekonomi dan Keuangan membuahkan hasil dengan memenangkan sejumlah lomba di antara juara ke-2 lomba penulisan tingkat nasional yang diadakan Angkasa Pura II. Juara ke-2 lomba tulisan yang diadakan oleh Bursa Efek Indonesia (BEI) tingkat nasional. Juara ke-3 lomba tulisan Pariwisata yang diadakan Dinas Kominfo Sumut. Juara lomba tulisan yang diadakan oleh Kangguru English. Finalis kompetisi tulisan jurnalistik yang diadakan Schroders tingkat nasional dan finalis beberapa lomba lainnya. Belakangan menyukai topik Pariwisata dan Lingkungan. Bergabung dalam wadah Kelompok Tani Hutan (KTH) Harangan.

Sekarang, dia bekerja di perusahaan Konstruksi dan IT bagian digital marketing  di Medan. Selain itu ia juga menjadi penulis di NINNA.ID dan penulis lepas buat media lainnya. Dia punya banyak hobi. Hobi menulis, mengajar, bertani, berwisata, fotografi, dan lainnya. Ia dapat dihubungi melalui HPnya 0852-9773-2855 atau email damayanti_sinaga@yahoo.co.id.

 

 

 Bukti Tayang Tulisan di Media

https://www.ninna.id/penatapan-parhallow-menikmati-alam-ditemani-menu-ala-bule/

https://www.ninna.id/mengintip-sisi-danau-toba-menyambut-presiden-joko-widodo/

https://www.ninna.id/memoar-di-hutaraja-kini-memukau-sebagai-kampung-ulos/

https://www.ninna.id/aek-natonang-danau-di-atas-danau-di-pulau-samosir/

https://www.ninna.id/panorama-tanjungan-bikin-kamu-jatuh-hati/

https://www.ninna.id/sigarantung-air-terjun-keramat-di-simanindo-samosir/

https://analisadaily.com/berita/arsip/2015/4/20/126178/menginklusifkan-pariwisata-sumut/

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Bukti Tayang Tulisan di Media

https://www.ninna.id/ramai-ramai-warga-parapat-tembak-pak-presiden/

https://www.ninna.id/penatapan-parhallow-menikmati-alam-ditemani-menu-ala-bule/

https://www.ninna.id/mengintip-sisi-danau-toba-menyambut-presiden-joko-widodo/

https://www.ninna.id/memoar-di-hutaraja-kini-memukau-sebagai-kampung-ulos/

https://www.ninna.id/aek-natonang-danau-di-atas-danau-di-pulau-samosir/

https://www.ninna.id/panorama-tanjungan-bikin-kamu-jatuh-hati/

https://www.ninna.id/sigarantung-air-terjun-keramat-di-simanindo-samosir/

https://analisadaily.com/berita/arsip/2015/4/20/126178/menginklusifkan-pariwisata-sumut/

 

 

 

 

 

 

Kualanamu Berpotensi Jadi Bandara Aerotropolis






Sumber : Angkasa Pura II+Internet

http://harian.analisadaily.com/ekonomi/news/kualanamu-berpotensi-jadi-bandara-aerotropolis/50773/2014/07/26 

Medan, (Analisa). Bandar Udara Internasional Kualanamu (KNIA) di­pas­tikan dapat menjadi bandara berkonsep aero­tropolis pertama di Indonesia. Bandara terbesar kedua setelah Soekarno Hatta ini memiliki beragam faktor yang men­dukungnya menjadi bandara internasional yang dapat memajukan ekonomi Indonesia, khususnya Pulau Su­matera.

Sejak beroperasi pada 25 Juli 2013, KNIA mengundang beragam pujian dan kritikan yang membangun. Dalam tahap I pembangunan, bandara ini telah dapat menampung 8,1 juta penumpang dan 10.000 pergerakan pesawat per tahun. Apabila tahap kedua rampung, bandara ini akan mencapai 25 juta pe­numpang per tahun.

Fasilitas dan infrastruktur penunjang seperti pembangunan jalur kereta api, jalan raya yang lebar yang memung­kinkan bus dan mobil melintas, men­dorong kemajuan bandara ini. Fre­kuensi perjalanan pun terus meningkat. Jika di awal pengoperasian hanya 13 kali per arah, pada Mei 2014, frekuensi perjalanan meningkat menjadi 20 kali per arah.

Apalagi menjelang implementasi Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) 2015, berbagai upaya dilakukan PT. Ang­kasa Pura II demi meningkatkan kemajuan bandara tersebut. Tengku Said Ridwan General Manager PT. Angkasa Pura II, mengatakan, KNIA akan menjadi bandara pusat dan ger­bang Indonesia bagian barat dan pusat logistik yang mencapai 4 juta metrik ton per tahun pada 2050.
Keberadaan KNIA yang akan terko­neksi langsung dengan Pelabuhan Tan­jung Kuala-pelabuhan internasional, dan kawasan ekonomi khusus Sei Mangkei, mendukungnya sebagai pusat internasional. Bandara ini akan mem­berikan dampak sosial dan ekonomi bagi masyarakat yang tinggal hingga 60 mil dari pusat bandara.

Guna mewujudkan KNIA menjadi bandara aerotropolis, PT. Angkasa Pura (AP) II tengah menyiapkan infrastruk­tur fasilitas komersial berupa hotel berkelas bintang lima, empat, dan tiga, plaza dan pusat pertunjukan, pusat pelatihan bandara, taman bisnis berupa perkantoran dan toko, gudang kargo dan logistik, pom bensin dan ruang pe­ristirahatan, taman golf, dan taman rekreasi.
Ia mengemukakan, posisi KNIA sangat mendukung sistem logistik na­sional dan masterplan percepatan dan perluasan pembangunan ekonomi Indonesia (MP3EI), sebagaimana yang diharapkan pemerintah. Kualanamu akan menjadi pusat dan gerbang Inter­na­sional di Indonesia dengan area la­yanannya meliputi Asia, ASEAN, dan APEC. Di dalam negeri, bandara itu ber­­peran menjadi area servis koridor ekonomi I Sumatera, koridor ekonomi II Jawa, dan koridor ekonomi III Ka­limantan.

Tantangan
Wakil Ketua Umum Kamar Dagang Sumatera Utara Bidang Logistik yang juga merupakan Ketua Gabungan Pe­rusahaan Ekspor Indonesia (GPEI) Su­mut menyatakan, tantangan yang diha­dapi KNIA untuk menjadi bandara ber­konsep aerotropolis di antaranya ta­tanan aturan serta tata kelola dan estetika yang mengacu kepada kla­sifikasi internasional.

Dibutuhkan kerja sama yang solid antara Badan Usaha Milik Negara (BUMN), swasta, serta usaha kecil me­nengah (UKM) dengan standar opera­sional yang jelas dan terukur. Untuk menyaingi bandara dalam negeri dan luar negeri, KNIA harus mampu me­ngoptimalisasi pencapaian kepuasan pelanggan. Bandara harus mempunyai pelayanan dengan sistem C.I.Q.S (custom, immigration, quarantine, security).

Wakil Ketua Umum Kadin Sumut Tomi Wistan menyoroti sejumlah ham­batan yang harus segera dibenahi AP II seperti penyediaan listrik yang me­madai, bahkan jika perlu tidak bergan­tung kepada perusahaan listrik negara. Pengembangan infrastruktur teknologi seperti wifi, dan sarana teknologi lain­nya yang memungkinkan bagi para penumpang dapat menikmati suasana bandara yang modern.

Rekomendasi
Akses jalan lingkar dalam dan luar menuju bandara, standar kenyamanan mulai dari masuk sampai terbang serta fasilitas pendukung yang rapi, bersih, dan aroma yang nyaman, perlu diting­katkan. AP II urgen menetapkan regu­lasi yang definitif terlebih komit­men­nya terhadap pelaksanaan serta kepas­tian hukum pelaku usaha dalam menja­lankan usaha, rencana yang terprogram, serta sumber daya manusia yg prima.

Pengamat ekonomi Hanny Siagian mengkritisi, Kualanamu harus mem­buka peluang rute penerbangan yang lebih luas dengan pasar yang lebih besar. Untuk itu, ada beberapa hal yang harus diperhatikan oleh AP II sehu­bu­ngan dengan lingkungan, pelayanan, dan biaya.
Terkait lingkungan, agar menjadi bandara aerotropolis, diperlukan komit­men antara pengelola, pihak maskapai dan pemerintah, yang saling mendu­kung. Terutama kerja sama pihak pe­merintah, AP II, dan PTPN III terkait pembebasan lahan peruntukkan Kua­lanamu.

Akses menuju bandara yang masih terbatas sebab jalan non tol semrawut. Pengelolaan dan desain KNIA butuh ditingkatkan. Seperti sejumlah ba­ngunan yang catnya pudar dan terkesan asal, semen tembok atau lantai yang rusak, dan kaca yang tidak jernih.

Infrastruktur pendukung seperti toilet, tempat ibadah, restoran, pertokoan, tempat duduk yang nyaman, penting untuk ditambahkan. Pembangunan In­frastruktur sebagaimana yang direnca­nakan, harus dipercepat.

Akses keluar masuk bandara yang sangat bebas, perlu ditinjau ulang guna menjaga keamanan bandara. Penem­patan satpam yang masih kurang khu­susnya pada pos-pos rawan. Regulasi dan sanksi yang tegas terhadap peda­gang asongan dan taksi liar serta preman yang selama ini menyebabkan kon­disi bandara awut-awutan.

Perlu batasan jumlah pengantar se­hingga bandara tidak terlalu padat. Pe­tugas kebersihan seharusnya lebih aktif menjaga kebersihan agar tingkat keber­sihan KNIA mencapai standar in­ternasional. Dan memang, masyarakat semestinya ikut menjaga kebersihan bandara dengan tidak duduk di lantai atau membuang sampah sembarangan.

Pelayanan prima harus menjadi prioritas. Para petugas di bandara pen­ting menjaga sikap sopan dan ramah terhadap para penumpang, termasuk petugas imigrasi. Kepentingan para pelanggan wajib untuk dipilah-pilah, misalnya, kebutuhan para pengusaha eksportir, importir, perlu dipisahkan dari pelanggan biasa, tanpa membe­rikan servis yang berat sebelah.

Para pengunaan kendaraan butuh diarahkan untuk memasuki lokasi par­kiran dengan tertib dan teratur. Selain itu, perlu ada ketegasan atas keamanan kendaraan bagi penumpang yang me­nginap.

Terkait biaya, tarif kereta api Medan menuju Kualanamu perlu dikalkulasi ulang. Tarif sekali jalan Rp 80ribu per penumpang terlalu mahal. Hal ini me­ngakibatkan banyak penumpang yang menggunakan tranportasi alter­natif yang lebih murah misalnya taksi, damri, mobil pribadi, dan lainnya. Akibatnya, potensi laba dari kereta api belum dimaksimalkan oleh perusahaan pa­tungan AP II dengan Perusahaan Kereta Api. (dyt)





Meeting Solo Female Travelers Around Lake Toba

    Samosir, NINNA.ID -One of my biggest motivations for becoming a tour guide was simple: I wanted to have friends from different parts of ...