Sebelas Hari Bersama Perempuan-Perempuan Hebat dari Eropa Timur Eksplor Sumatra

     

NINNA-Malam 4 Mei 2026, Bandara Kualanamu masih sibuk dan penuh suara orang berlalu-lalang. Aku berdiri menunggu tiga tamu spesial dari Slovakia dan Republik Czech. Tak lama kemudian, muncul tiga perempuan dengan koper besar dan wajah lelah setelah perjalanan panjang: Maria, Pavla, dan Hana.

Kami langsung berfoto bersama. Foto pertama dari perjalanan sebelas hari yang nantinya dipenuhi cerita, tawa, dan banyak kejutan kecil.

[caption id="attachment_37297" align="alignnone" width="1280"]DAMAYANTI_AIRPORT_PICK_UP Menjemput Maria, Pavla, dan Hana di Bandara Kualanamu bukan sekadar awal perjalanan, tapi awal dari sebelas hari cerita, tawa, dan persahabatan baru yang tumbuh di Sumatra. (foto ©Damayanti)[/caption]

Malam itu kami menuju hotel di Kota Medan. Awalnya suasana di mobil sedikit canggung, seperti orang-orang yang baru saling mengenal. Tetapi Maria mulai banyak bertanya, lalu percakapan mengalir begitu saja. Saat itu aku mulai merasa, perjalanan ini pasti akan menyenangkan.

Keesokan paginya kami memulai petualangan di Kota Medan. Kami mengunjungi Masjid Raya Al Mashun dan Istana Maimun. Saat tiba di masjid, ternyata sedang ada doa bersama dalam jumlah besar. Orang-orang memakai pakaian rapi dan suasananya terasa tenang dan khusyuk.

Di Istana Maimun, ada kejadian lucu. Beberapa anak magang diam-diam memperhatikan Maria, Pavla, dan Hana sambil berbisik, “Bule… bule…” Sampai akhirnya Maria diminta berfoto bersama. Dalam hitungan menit, tour leader kami berubah jadi bintang dadakan di halaman istana.

[caption id="attachment_37298" align="alignnone" width="960"]Istana Maimun_Maria bersama para siswa/students Di Istana Maimun, Maria langsung jadi bintang dadakan. Anak-anak magang heboh berbisik “bule… bule…”, lalu dalam sekejap Maria diajak berfoto di halaman istana. Suasana sederhana yang berubah jadi tawa dan cerita kecil yang tak terlupakan. (foto ©Damayanti)[/caption]

Perjalanan menuju Tangkahan cukup panjang. Di tengah jalan kami berhenti di sebuah kedai cafe di Langkat. Ternyata kami berempat sama-sama pencinta kopi.

Maria sangat suka espresso dan punya standar tinggi untuk secangkir kopi. Untungnya, kopi hari itu berhasil membuatnya tersenyum puas.

Sebelum lanjut jalan, kami membeli pisang dan mangga dari penjual buah pinggir jalan. Maria lalu membagikan pisang itu satu per satu kepada kami.

Dari situlah aku mulai mengajarinya beberapa kata Batak yang lucu. Salah satunya “bodat”. Kami tertawa sepanjang perjalanan hanya karena satu kata sederhana.

Dari situ aku sadar, pariwisata sebenarnya hidup dari hal-hal kecil.

Bukan hanya hotel mewah atau tempat terkenal. Tetapi dari kopi lokal yang diminum bersama, buah yang dibeli langsung dari petani desa, atau warung kecil yang tetap bertahan karena ada wisatawan datang. Saat wisatawan membeli produk lokal, uang itu ikut membantu kehidupan masyarakat sekitar.

Dan Maria benar-benar suka melakukan itu. Ia tidak hanya mencari tempat cantik untuk difoto, tetapi juga ingin mengenal orang-orang di balik tempat itu.

Saat tiba di Tangkahan, Pavla dan Hana langsung terkejut melihat jembatan gantung panjang yang harus kami lewati sambil membawa koper. Mereka tertawa campur takut.

Beberapa ibu datang membantu mengangkat barang kami. Hal kecil seperti itu sering membuat tamu asing kagum pada keramahan orang Sumatra.

[caption id="attachment_37300" align="alignnone" width="1280"]TANGKAHAN Suasana makan siang di pinggir sungai di Tangkahan
(foto ©Damayanti)[/caption]

Siang itu kami makan di pinggir sungai. Suara air dan pepohonan membuat makan siang sederhana terasa sangat istimewa.

[caption id="attachment_37299" align="alignnone" width="960"]Makan Siang di Tangkahan Maria mengambil makan siang sederhana di tepi sungai, ditemani gemericik air dan rindangnya pepohonan. Di tengah alam yang tenang, setiap suapan terasa lebih hangat, lebih hidup, dan lebih berkesan. (foto ©Damayanti)[/caption]

Lalu petualangan di Sungai pun dimulai.

Kami berjalan menuju air terjun, bermain air, lalu tubing menyusuri sungai. Kadang kami tertawa, kadang berteriak saat ban menghantam batu. Rasanya seperti kembali menjadi anak-anak.

Keesokan harinya kami pergi ke camp gajah. Maria dan Pavla ikut memandikan gajah bersama pawang. Wajah mereka terlihat sangat bahagia terkena cipratan air dan lumpur.

Dari Tangkahan kami melanjutkan perjalanan menuju Bukit Lawang dengan jeep 4x4. Jalan berlumpur membuat mobil berguncang keras dan kami terus tertawa sepanjang perjalanan.

Di Bukit Lawang, suara Sungai Bahorok terdengar sepanjang malam.

Pagi berikutnya kami trekking masuk ke hutan Taman Nasional Gunung Leuser untuk mencari orangutan. Kami berjalan di bawah pohon-pohon besar yang tinggi sekali. Saat seekor orangutan muncul di atas pohon, semuanya langsung diam. Pavla dan Hana menatap penuh kagum. Rasanya seperti masuk ke dunia lain.

Hari-hari berikutnya terus mengalir seperti cerita panjang.

Kami menikmati udara dingin Berastagi, melihat Gunung Sinabung dari kejauhan, dan minum kopi di Erdillo Café.

[caption id="attachment_37317" align="alignnone" width="1280"]ERDILO CAFE-DAMAYANTI TOUR GUIDE SUMATRA Erdilo Coffee tempat nongkrong kopi di kai gunung Sinabung (foto: istimewa)[/caption]

Lagi-lagi Maria puas dengan espresso yang harum dan kuat rasanya. Bahkan ia sampai berfoto dengan latar Gunung Sinabung sambil memegang secangkir kopi.

[caption id="attachment_37301" align="alignnone" width="1600"]GUNUNG SIBAYAK SIBAYAK VOLCANO Subuh di Gunung Sibayak, kami mulai pendakian pukul empat pagi dalam gelap dan dingin yang menusuk.[/caption]

Subuh berikutnya kami mendaki Gunung Sibayak pukul empat pagi.

Udara dingin menusuk kulit. Jalan menanjak membuat napas terasa berat. Dalam gelap, kami hanya ditemani cahaya senter. Tetapi justru di perjalanan itu kami belajar bahwa mendaki gunung bukan hanya soal mencapai puncak, melainkan juga melawan rasa takut dan lelah dalam diri sendiri.

Setelah itu kami mengunjungi Desa Budaya Dokan. Rumah-rumah adat tua berdiri kokoh tanpa paku. Kayu-kayu tua, atap ijuk, dan kepala kerbau di ujung rumah membuat kami seperti kembali ke masa ratusan tahun lalu.

[caption id="attachment_37303" align="alignnone" width="1280"]DESA DOKAN KARO Desa Dokan menyambut kami dengan suasana tenang dan rumah adat Siwaluh Jabu yang berdiri kokoh sebagai saksi sejarah budaya Karo. (foto ©Damayanti)[/caption]

Lalu kami menuju Air Terjun Sipiso-piso. Dari sana Danau Toba terlihat sangat luas dan tenang.

Setelah itu kami bertemu teman-teman Maria di sebuah kafe dekat Danau Toba. Aku heran mengapa Maria punya kenalan di mana-mana. Tetapi lama-lama aku sadar, ia memang tipe orang yang mudah berteman dengan siapa saja.

Saat tiba di Pulau Samosir, suasana perjalanan berubah lebih tenang.

Danau Toba seperti membuat semua orang melambat.

Besoknya kami mengunjungi Huta Siallagan dan aku mulai bercerita tentang adat Batak, kursi batu Raja Batak, serta filosofi cicak dan payudara yang menghiasi rumah adat Batak Toba.

Aku menjelaskan bahwa cicak melambangkan orang Batak, sementara bentuk payudara melambangkan pentingnya keturunan dan penghormatan kepada ibu atau kampung halaman.

Maria, Pavla, dan Hana mendengarkan dengan serius. Aku senang melihat mereka benar-benar menghargai cerita budaya yang kubagikan.

Dari sana kami menuju Kampung Ulos Hutaraja, kampung leluhurku. Sebelum tiba, aku sengaja menunjukkan Tugu Simanihuruk, salah satu tugu paling megah di Samosir.

[caption id="attachment_37318" align="alignnone" width="960"]TUGU MEWAH SIMANUHURUK DI SAMOSIR-DAMAYANTI TOUR GUIDE SUMATRA Berhenti sejenak di Tugu Simanihuruk, salah satu tugu paling megah di Samosir (foto ©Damayanti)[/caption]

Setelah minum kopi bersama, aku mengajak mereka ke Rumah Belajar Hutaraja yang pernah kubuka di rumah warisan nenek buyutku.

[caption id="attachment_37310" align="alignnone" width="1200"]RUMAH BELAJAR HUTARAJA-DAMAYANTI TOUR GUIDE SUMATRA Kami berfoto bersama di Rumah Belajar Hutaraja, rumah belajar yang pernah ku buka namun akhirnya ku tutup karena tidak mampu melanjutkan operasionalnya (foto ©Damayanti)[/caption]

Di rumah sederhana itu aku pernah mengajar anak-anak Bahasa Inggris agar mereka berani berbicara dengan wisatawan asing dan memiliki masa depan lebih luas.

 

Perjalanan kami lanjut ke Air Terjun Nai Sogop, meski hujan sempat menghambat langkah kami. Karena lapar, kami akhirnya makan siang di Panorama Tele.

Maria yang baru pertama kali ke sana tampak sangat antusias mengabadikan pemandangan, bahkan kembali menjadi pusat perhatian anak-anak yang meminta foto bersama.

[caption id="attachment_37320" align="alignnone" width="1600"]PANORAMA TELE_DAMAYANTI_TOUR GUIDE SUMATRA Pemandangan indah di sky bridge Panorama Tele (foto ©Damayanti)[/caption]

Setelah hujan reda, kami akhirnya tiba di Nai Sogop. Walau air terjun tampak lebih coklat akibat hujan deras, Maria dan Pavla tetap menikmati suasana alam yang liar dan menenangkan itu.

[caption id="attachment_37319" align="alignnone" width="960"]AIR TERJUN NAI SOGOP-DAMAYANTI TOUR GUIDE SUMATRA Hujan deras membuat Air Terjun Nai Sogop tampak lebih coklat, tetapi suasana alamnya tetap memikat hati Maria dan Pavla. (foto ©Damayanti)[/caption]

Keeksokan harinya adalah hari istirahat panjang bertepatan saat itu Hari Minggu. Dari kami, ada yang ibadah, ada yang sibuk dengan laundry dan berbagai macam kesibukan lainnya.

Perjalanan terus berlanjut menuju Padang Sidempuan dan Bukittinggi.

[caption id="attachment_37302" align="alignnone" width="960"]FOTO BERSAMA WARGA KAMPUNG GIRSANG Berfoto bersama warga Kampung Girsang, kami disambut dengan kehangatan sederhana yang terasa tulus. (foto ©Damayanti)[/caption]

Akan tetapi sebelumnya kami berhenti di Kampung Girsang, di sinilah tempat tinggalku sekarang. Sebagai seorang yang tak mungkin mendapat warisan tanah, aku mesti memikirkan masa depanku sendiri.

Sengaja kuajak Maria melihat tempat tinggalku, sebuah gubuk kecil di Kampung Girsang. Aku bercerita bahwa saat tidak membawa tamu, aku sibuk mengurus usaha kecil yang baru saja kubangun, yakni usaha kemiri.

[caption id="attachment_37321" align="alignnone" width="1600"]USAHA KEMIRI GIRSANG_DAMAYANTI TOUR GUIDE SUMATRA Kujak Maria melihat gubuk kecilku di Kampung Girsang, tempat aku membangun mimpi kecil lewat usaha kemiri. (foto ©Damayanti)[/caption]

Bukan untuk menjadi kaya, tetapi agar aku bisa bertahan hidup di kampung kecil dengan pergerakan ekonomi yang terbatas ini. Sejak 2018, aku memilih tinggal di Danau Toba dan fokus mempromosikannya melalui pekerjaanku sebagai travel writer dan tour guide.

Namun bagiku, menjadi pemandu wisata bukan hanya soal membawa wisatawan berkeliling, melainkan juga tentang membangun sesuatu yang berarti bagi masyarakat lokal dan masa depanku sendiri.

Karena itu aku mulai bermimpi mengembangkan Kampung Girsang sebagai kampung wisata kecil yang hidup dari kekuatan masyarakatnya sendiri. Di sini ada kebun kopi, cengkeh, nanas, hingga usaha kecil seperti kopi sangrai, dan lainnya yang dijalankan warga.

Sedikit demi sedikit aku mencoba membantu lewat hal-hal kecil yang bisa kulakukan, termasuk mendukung kelompok pembibitan kopi yang baru kami mulai tahun ini.

Bagiku, perjalanan ini bukan hanya tentang wisata, tetapi tentang memperlihatkan sisi nyata Danau Toba yakni kehidupan masyarakat lokal, mimpi-mimpi kecil, dan harapan agar kampung ini tetap hidup.

Setelah berkunjung ke kampung ini, kami beranjak menuju Padang Sidempuan. Sebelumnya, kami berkunjung ke Aek Rangat Sipoholon. Selain itu, kami menikmati makan siang di Café Gorga, Tapanuli Utara.

[caption id="attachment_37322" align="alignnone" width="1280"]HOT SPRING SIPOHOLON_DAMAYANTI-TOUR GUIDE SUMATRA Menjelajahi kehangatan alam dan tradisi unik di Aek Rangat Sipoholon.(foto ©Damayanti)[/caption]

Lalu kami menuju Hotel Mega Permata di Padang Sidempuan.
Keesokan harinya, kami lanjut perjalanan menuju Bukit Tinggi. Seperti biasa, kami akan berhenti di sejumlah tempat yang menarik untuk dikunjungi.

Kami berhenti di tempat menempah parang atau pisau. Di sini rata-rata masyarakat memiliki usaha seperti ini. Aku pun tertarik untuk membeli sebilah pisau tajam yang cocok untuk ku pakai mengupas buah.

[caption id="attachment_37312" align="alignnone" width="1280"]PEMBUATAN PISAU DI SEKITAR PADANG SIDEMPUAN -DAMAYANTI TOUR GUIDE SUMATRA Lokasi pembuatan pisau ataau oarang di sekitar Padang Sidempuan (foto ©Damayanti)[/caption]

Akan tetapi, seperti biasa, Maria punya cara untuk membuatku tertawa. Dia bilang pisau itu akan ku pakai jaga diri siapa tahu ada yang berniat jahat padaku. Maria memang selalu punya pernyataan yang buatku senyum. Setelahnya, kami lanjutkan perjalanan menuju Equator.

Tetapi sebelum tiba, kami mendengar ada bunga bangkai amorphophallus titanium di tengah jalan yang sedang mekar. Saat itu kami melihat bunga itu menarik banyak perhatian warga yang lalu lalang. Kami sempat berhenti di tengah gerimis dan mengabadikan gambarnya.

[caption id="attachment_37313" align="alignnone" width="960"]BUNGA BANGKAI amorphophallus titanum Bunga Bangkai Amorphophallus Titanum (foto ©Damayanti)[/caption]

Berikutnya kami tiba di Taman Wisata Equator Bonjol, kami berhenti di garis khatulistiwa untuk berfoto bersama. Kami semua juga mendukung para pedagang kaos yang selalu tak pernah jauh dari kami. Bolak-balik membujuk kami membeli kaosnya.

Aku yang sudah punya stok 3. Maria juga sudah punya banyak stok, akhirnya membeli kembali. Bukan karena butuh tapi kami anggap itu cara kami mendukung para pedagang. Kaosnya bisa kami berikan buat orang terdekat kami.

[caption id="attachment_37323" align="alignnone" width="1280"]GARIS KHATULISTIWA DI TAMAN BONJOL SUMBAR_DAMAYANTI-TOUR GUIDE SUMATRA Berfoto di garis khatulistiwa di Taman Wisata Equator Bonjol di saat yang sama para pedagang mendekati kami, membujuk kami untuk membeli barang dagangan mereka. (foto ©Damayanti)[/caption]

Setelahnya, kami menuju Hotel Santika Dyandra Bukit Tinggi. Aku sendiri menginap di salah satu penginapan kawan HPI Bukit Tinggi bernama Erwin. Banyak pemandu wisata maupun supir menginap di sini.

[caption id="attachment_37327" align="alignnone" width="1280"]PAGARUYUNG SUMBAR-DAMAYANTI TOUR GUIDE SUMATRA Memandang megahnya Istano Basa Pagaruyung (foto ©Damayanti)[/caption][caption id="attachment_37325" align="alignnone" width="1280"]Panorama Sianok_DAMAYANTI-TOUR GUIDE SUMATRA Panorama Sianok (foto ©Damayanti)[/caption]

Keesokan harinya, kami menuju Panorama Sianok, Istana Pagaruyung, dan terakhir kami mengunjungi Pusat Oleh-Oleh Kiniko Kopi yang di sini kita bisa lihat pengelolaan kopi.
Dan tanpa terasa, tibalah hari terakhir yakni hari kesebelas.

[caption id="attachment_37305" align="alignnone" width="960"]KINIKO_KOPI_WESTSUMATRA Kami berkunjung ke Rumah Produk Kopi KINIKO (foto ©Damayanti)[/caption]

Kami menuju Bandara Padang melalui Lembah Anai. Jalan terasa lebih sunyi dibanding hari pertama karena akhirnya berpisah dengan mereka. Sebelas hari terasa sangat cepat.
Perjalanan ini bukan hanya tentang tempat-tempat indah di Sumatra.

[caption id="attachment_37326" align="alignnone" width="960"]PERPISAHAN DENGAN MEREKA-DAMAYANTI TOUR GUIDE SUMATRA Perpisahan dengan mereka di Bandara Minangkabau, Padang (foto ©Damayanti)[/caption]

Tetapi tentang tawa di dalam mobil, di perjalanan, kopi yang diminum bersama, pisang yang dibagi di tengah perjalanan, suara sungai di Tangkahan, orangutan di hutan, dan cerita kecil yang membuat kami terasa seperti teman lama.

Maria, Pavla, dan Hana datang sebagai tamu.
Tetapi mereka pulang sebagai bagian dari cerita yang akan selalu aku ingat.

Dan mungkin, harapan untuk Sumatra memang bisa tumbuh dari perjalanan-perjalanan sederhana seperti ini.

Perjalanan yang membuat wisatawan tidak hanya melihat alam, tetapi juga belajar mencintai manusia dan kehidupan di baliknya.

*Penulis/Editor: Damayanti Sinaga
Tour Guide Sumatra

Jangan Lewatkan Kampung Girsang: Pesona Sawah, Bukit, dan Tradisi Batak

Simalungun, NINNA.ID-Bayangkan sebuah kampung yang memeluk bukit hijau dengan sawah-sawah bertingkat yang ditatah rapi di lereng-lerengnya — sebuah karya manusia yang seolah menjadi tangga menuju langit.

Inilah Kampung Girsang, sebuah keajaiban hidup yang tak kalah menakjubkan dari teras sawah Cordillera di Filipina.

Kampung Girsang bukan hanya sebuah destinasi wisata; ia adalah napas yang memberi kehidupan bagi manusia dan alam.

Di sinilah, setiap jengkal tanah adalah saksi bisu perjuangan para petani yang menenun harapan dengan tangan mereka sendiri.

Sawah bertingkat di Sitombom dan Gala-Gala tidak dibangun dalam semalam, tetapi lahir dari gotong royong generasi demi generasi yang tak mengenal lelah.

Seperti yang terjadi di Cordillera Filipina, sawah bertingkat di Kampung Girsang adalah mahakarya yang menaklukkan medan terjal.

Dengan kemiringan yang menantang, para petani di Girsang mengguratkan sawah-sawah pada kontur alam, menjaga humus agar tidak hanyut saat hujan turun.

Mereka membangun pematang yang menjadi benteng bagi tanah, air, dan kehidupan. Mereka menanam padi dengan iringan senandung marsiadapari — sebuah tradisi gotong royong yang menjadi denyut nadi kampung ini.

Di sinilah kamu bisa menyaksikan sendiri bagaimana budaya bertani bukan sekadar aktivitas ekonomi, melainkan jalan hidup.

Para petani di Girsang menanam bukan hanya untuk perut mereka sendiri, tetapi juga untuk kita semua — karena di sanalah terletak kesadaran: bahwa setiap butir nasi yang kita nikmati, ada tetes keringat petani yang menghidupinya.

Saat kamu menapaki pematang sawah yang hijau zamrud, kamu akan merasakan kehadiran leluhur yang mengajarkan kita untuk hidup selaras dengan alam.

[caption id="attachment_35804" align="alignnone" width="590"]Mempertimbangkan: Mak Ober, petani di Kampung Girsang 1 sedang mempertimbangkan apakah padinya sudah layak untuk dipanen atau harus menunggu beberapa hari lagi. Pemandangan sawah padi buat suasana hati tentram. (foto: Damayant) Mempertimbangkan: Mak Ober, petani di Kampung Girsang 1 sedang mempertimbangkan apakah padinya sudah layak untuk dipanen atau harus menunggu beberapa hari lagi. Pemandangan sawah padi buat suasana hati tentram. (foto: Damayant)[/caption]

Tradisi yang terpatri dalam Rumah Batak yang kokoh tanpa paku, diukir dengan cinta dan kebijaksanaan, mengingatkan kita betapa pentingnya menjaga harmoni antara manusia, alam, dan budaya.

Kampung Girsang adalah bagian tak terpisahkan dari Geopark Kaldera Toba — sebuah warisan geologi dan budaya yang diakui dunia.

Status ini bukan sekadar label, melainkan pengakuan bahwa tempat ini memiliki nilai universal bagi umat manusia. Namun, status ini hanya bisa dipertahankan jika kita semua ikut serta menjaga dan menghargai warisan yang ada.

Jangan biarkan sawah-sawah ini kering karena keegoisan kita yang menganggapnya hanya pemandangan untuk difoto. Jangan biarkan generasi muda lupa cara bertani, lalu sawah berubah menjadi lahan yang ditinggalkan.

Seperti teras sawah di Ifugao, sawah di Kampung Girsang membutuhkan air yang mengalir, tenaga yang tulus, dan cinta yang tak kenal pamrih.

Saat kamu berkunjung, datanglah bukan hanya sebagai turis yang mengambil gambar, tetapi juga sebagai sahabat yang memahami: di sinilah, kehidupan manusia bergantung pada keseimbangan alam.

Datanglah ke Kampung Girsang. Hirup udara segar di Bukit Simumbang, rasakan aroma kopi yang menenangkan, dan lihat bagaimana manusia bisa hidup berdampingan dengan alam.

Bawalah rasa ingin tahu, pulanglah dengan rasa hormat dan kagum. Karena di sinilah, setiap langkahmu adalah bagian dari perjuangan panjang untuk menjaga agar keajaiban hidup ini tetap lestari.

Jangan hanya menjadi penonton. Jadilah bagian dari cerita yang tak akan pernah selesai ditulis.

Penulis/Editor: Damayanti Sinaga

Rumah Belajar Hutaraja Hobi, Semangat dan Kepedulian untuk Danau Toba

 Samosir, NINNA.ID-Rumah Belajar Hutaraja adalah tempat belajar yang terletak di Kampung Ulos Hutaraja. Didirikan oleh Damayanti Sinaga sebagai sarana menyalurkan hobi dan semangat mengajar Bahasa Inggris kepada anak-anak.

Selain hobi dan semangat, ada target yang ingin ia capai yakni membantu, mempercepat kemampuan sumber daya masyarakat di Danau Toba khususnya di Samosir. Agar masyarakat mampu bercakap dengan para turis.

Apalagi Samosir, khususnya Kampung Ulos merupakan kampung wisata yang sangat populer. Kerap dikunjung oleh wisatawan mancanegara. Oleh karenanya masyarakat harus mampu berbahasa Inggris agar dapat melayani para tamu asing dengan prima.

[caption id="attachment_30208" align="alignnone" width="944"]rumah belajar HUTARAJA Damayanti bersama murid-murid menyambut tamu asing yang datang ke Rumah Belajar Hutaraja yang tadinya di Galeri belakangan pindah ke Ruma Genteng (foto: istimwa)[/caption]

Murid-Murid

Rata-rata murid di Rumah Belajar Hutaraja adalah anak-anak SD yang tinggal di Kampung Ulos Hutaraja. Ada juga yang berasal dari luar Kampung Ulos Hutaraja yakni SDN 10 LUMBAN SUHI-SUHI dan SD 22 Lumban Suhi-Suhi.

Selama lebih dari enam bulan, murid-murid gratis belajar Bahasa Inggris. Yakni sejak bulan Agustus 2023 hingga Januari 2024.

Memasuki bulan ketujuh, yakni Februari 2024, telah dikenakan uang Les buat anak-anak yakni 50ribu per anak untuk sebulan. Saat ini ada sekitar 30 anak yang aktif belajar Bahasa Inggris. Lebih dari 20 anak SD dan 5 anak SMP.

Kelas diadakan setiap Senin dan Rabu pukul 15.00 WIB hingga 18.00 WIB. Untuk SD dimulai pukul 15.00-16.25 dan untuk SMP dimulai pukul 16.30-18.00.

Materi Pelajaran

Untuk materi pelajaran dibuat khusus sesuai dengan kebutuhan sehari-hari untuk bercakap-cakap. Topik per topik. Misalnya, jika topik membahas rumah maka seluruh benda di rumah akan ditulis dalam Bahasa Inggris.

Anak-anak juga harus menghafal kosakata tentang rumah dalam Bahasa Inggris satu per satu. Anak-anak juga wajib bisa merangkai kalimat serta membacanya dengan suara lantang.

[caption id="attachment_30211" align="alignnone" width="1600"]Rumah Belajar Hutaraja Rumah Belajar Hutaraja (foto: Damayanti)[/caption]

Agar pengucapan mereka setidaknya terdengar sesuai layaknya penutur asli mengucapkannya.

Menunjang dalam hal mempersiapkan generasi-generasi muda untuk menjadi pramusaji yang dapat memandu para tamu asing.

Kampung Ulos Hutaraja yang masih dalam Kawasan Geopark Kaldera Toba dijadikan sebagai destinasi wisata dunia. Presiden Jokowi menjadikan Danau Toba sebagai Destinasi Super Prioritas.

[caption id="attachment_30213" align="alignnone" width="1600"]Rumah Belajar Hutaraja Suasana saat anak-anak belajar di Rumah Belajar Hutaraja[/caption]

Tentu pembenahan utama yang harus dilakukan, adalah mendidik, melatih dan mengembangkan kemampuan penduduk lokal, terutama dalam berbahasa Inggris.

Semangat untuk menguasai Bahasa Inggris juga perlu ditingkatkan mengingat dunia semakin global, semakin terkoneksi satu sama lain.

Jika tidak belajar dari sekarang, anak-anak tersebut tidak mampu berkomunikasi. Hal tersebut menjadi pemicu anak-anak minder, tidak tahan banting diterpa kemajuan zaman dan tertinggal khususnya secara informasi.

Oleh karena itu, mengajarkan Bahasa Inggris untuk anak-anak merupakan pilihan tepat. Kemampuang Bahasa Inggris dapat meningkatkan kemampuan berpikir, daya saing dan kreativitas anak-anak di kampung ini agar bisa menghadapi tuntutan zaman.

Khususnya mengembangkan keterampilan berbicara dan melayani tamu-tamu asing mengingat mereka tinggal di daerah pariwisata.

Tantangan

Kendala utama antara lain anak-anak kurang menghargai waktu dan pelajaran yang diberikan. Meskipun Les Bahasa Inggris ini awalnya diberikan gratis, tidak banyak orang tua yang mendukung anaknya agar mau belajar.

Meskipun demikian, Damayanti konsisten untuk mengikuti jadwal agar Les tetap dijalankan. Hal lain yang ia lakukan adalah dengan terus aktif memberikan pengarahan kepada orang tua murid.

Bercerita manfaat apa yang telah dirasakan anak-anak dan bagaimana mereka bisa menggunakan apa yang mereka pelajari dalam hidup mereka.

Keterbatasan sumber daya seperti buku dan alat bantu lainnya turut memengaruhi kelancaran anak-anak dalam belajar. Tapi secara keseluruhan yang menjadi tantangan adalah kurangnya penghargaan.

Tapi ia yakin, jika anak-anak mendapatkan akses pendidikan, khususnya mampu meningkatkan kemampuan berbahasa Inggris. Anak-anak dapat mempromosikan daerah wisata setempat.

Selain itu, dengan kemampuan berbahasa Inggris akan memampukan mereka bekerja tidak hanya di dalam, tetapi di luar negeri dengan skala yang lebih tinggi.

Program ini sangat penting untuk dilanjutkan. Damayanti berkomitmen untuk menjalankannya. Les Bahasa Inggris menunjang ketercapaian target SDGs tujuan ke-4 yakni pendidikan berkualitas.

Ke depan, Damayanti berharap dapat punya bangunan sendiri untuk mengajar anak-anak. Untuk saat ini, bangunan ini merupakan milik kerabat.

Selain itu, Damayanti juga berharap bisa mendirikan Rumah Belajar di Girsang 1 Kecamatan Girsang Sipanganbolon. Sebab, di sanalah pertama kalinya Damayanti mengabdi, mengajar Bahasa Inggris kepada anak-anak di Girsang 1.

Catatan Redaksi

Damayanti: An Experienced Tour Guide Bringing Lake Toba to Life

   

Lake Toba, with its breathtaking natural beauty and rich Batak cultural heritage, is one of Indonesia's top travel destinations. However, the true charm of this place is not only in its scenery but also in the stories and experiences it offers to visitors.

This is what makes Damayanti, a professional tour guide and Batak culture enthusiast, the perfect companion for your journey to explore the wonders of Lake Toba.

Meet Damayanti: A Tour Guide with an Educational Spirit

With years of experience as a freelance tour guide, Damayanti has taken travelers from around the world on unique cultural and natural explorations in Samosir.

Raised in this region, she possesses deep knowledge of Batak history, traditions, and local uniqueness, offering not just information but an authentic experience that is hard to find elsewhere.

In addition to being a tour guide, Damayanti is also an experienced journalist and content writer. Her storytelling skills allow her to bring Batak history and mythology to life during her guided tours. With her engaging narration, travelers can easily understand and appreciate the rich cultural heritage of the region.

Experience and Expertise

As an experienced tour guide, Damayanti offers a variety of services, including:

  • Cultural and Historical Tours: Taking visitors to traditional Batak villages like Huta Siallagan and Tomok to understand the philosophy of Batak life.
  • Nature Tourism: Organizing trips to stunning locations around Lake Toba, such as Bukit Holbung, Efrata Waterfall, and Sibandang Island.
  • Culinary and Traditional Arts: Providing an authentic taste of Batak cuisine and introducing travelers to traditional Gondang music and the Tor-Tor dance.
  • Eco-Tourism and Sustainable Travel: Promoting environmentally friendly tourism to preserve the natural beauty of Lake Toba.

Why Choose Damayanti?

  1. Experienced and Professional: With a background in journalism and tour guiding, Damayanti has exceptional communication skills and presents information in an engaging and insightful manner.
  2. Local, Authentic, and Knowledgeable: As a native of Samosir, Damayanti has deep connections with the local community and access to exclusive experiences that are not widely known to general tourists.
  3. Customer-Oriented: She ensures that travelers receive the best experience with warm, flexible, and insightful service.
  4. Multilingual: Fluent in Indonesian, English, and Batak, enabling her to communicate with international travelers.

Traveler Testimonials

Many travelers who have been guided by Damayanti have shared positive reviews about their experiences:

"Damayanti is the best tour guide I've ever met. She not only showed us beautiful places but also explained the history and culture in such an engaging way!" – Anna, Germany.

"Exploring Lake Toba with Damayanti made me feel like part of the local community. She knows the best spots and made our trip unforgettable." – James, Australia.

Contact and Start Your Adventure!

If you want to explore the beauty of Lake Toba with an expert and dedicated guide, Damayanti is the perfect choice. Contact her via email at damayantisinaga0@gmail.com or WhatsApp at 0852-9773-2855 to book an unforgettable tour!

Make your journey to Lake Toba more than just a trip—experience a meaningful and memorable adventure with Damayanti!




Meet Damayanti Sinaga: A Passionate Guide Promoting Lake Toba

 Hello, my name is Damayanti Sinaga, but you can call me Butet. In Batak culture, “Butet” is a name often given to female babies, but as I’ve grown, it’s become a part of my identity. Though I’m no longer a baby, the name stuck, especially as many people outside the Batakcommunity call me Butet. Over time, I’ve come to embrace it.


I live in Kampung Ulos Hutaraja Pardamean, a charming village located on the beautiful Samosir Island, which is nestled next to the majestic Lake Toba in the highlands of North Sumatra. Living here, surrounded by natural beauty and rich cultural heritage, fills me with pride. It’s no wonder I’ve become passionate about sharing my home with others.

A Passion for Guiding and Promoting Lake Toba

One of the main reasons I became a tour guide is my deep desire to meet and connect with people from all over the world. Through guiding, I can introduce visitors to the wonders of Lake Toba, which holds a special place in my heart. This volcanic lake is not just a natural wonder; it’s a symbol of my heritage, and I want the world to see its beauty too.

By working as a guide, I can contribute to sustainable tourism, helping to preserve the region’s natural and cultural treasures while supporting the local community. I firmly believe that tourism can be a powerful force for good, and my role as a guide allows me to play an active part in making Lake Toba a top destination for travelers while ensuring it remains vibrant and thriving for generations to come.


A Lifelong Love for Learning and Sharing Knowledge

Aside from guiding, I have a love for reading, research, and continuous learning. I enjoy teaching and often spend my free time sharing knowledge with children in my community. It’s a hobby that brings me immense joy. I believe that learning is a lifelong journey, and I take every opportunity to expand my horizons by learning new languages and making friends from different parts of the world.

My previous experience as an editor at Analisa Newspaper, one of the largest newspapers in North Sumatra, has shaped my communication skills and deepened my understanding of the media and tourism industries. This experience, coupled with my love for storytelling and sharing local culture, has given me the confidence to guide visitors in a way that is both informative and welcoming.


Promoting Sustainable Tourism

As a local, I understand the importance of sustainable tourism and the impact it has on the environment, economy, and society. I want to show tourists the authentic beauty of Lake Toba while ensuring that tourism benefits the local community. Sustainable practices are at the heart of my tours, whether it’s encouraging responsible travel behaviors or supporting local businesses.

Every tour I lead is an opportunity to share the beauty of the land, the history of the Batak people, and the importance of preserving this unique destination. Lake Toba is more than just a place; it’s a story waiting to be told. Through my tours, I hope to help visitors connect with this place in meaningful and lasting ways.



Conclusion: Welcoming the World to Lake Toba

Through my work, I aim to make Lake Toba not just a destination, but an experience that visitors will cherish forever. Whether it’s through a scenic tour of the lake or a cultural walk through my village, I want each traveler to leave with a deeper appreciation of the beauty and culture of North Sumatra.

As I continue to learn, grow, and connect with people from all corners of the globe, I invite you to visit Lake Toba and experience it through my eyes. Let’s create lasting memories together and help make sustainable tourism a priority for everyone.

Thank you for taking the time to get to know me. I look forward to sharing the wonders of Lake Toba with you.


Hutaraja Learning House: Hobby, Passion, and Care for Lake Toba

  

Hutaraja Learning House is a learning center located in Ulos Hutaraja Village. It was founded by Damayanti Sinaga as a medium to channel her hobby and passion for teaching English to children.

Besides her hobby and passion, Damayanti aims to help accelerate the development of local human resources in Lake Toba, especially in Samosir. She hopes the community can converse with tourists, particularly as Samosir, especially Ulos Village, is a popular tourist destination often visited by international travelers. Therefore, residents need to speak English to serve foreign guests well.

Students The majority of students at Hutaraja Learning House are elementary school children from Ulos Hutaraja Village. Some also come from outside the village, such as SDN 10 Lumban Suhi-Suhi and SD 22 Lumban Suhi-Suhi. For more than six months, children have been learning English for free, from August 2023 to January 2024. Starting in February 2024, a tuition fee of IDR 50,000 per child per month has been introduced. Currently, around 30 children actively study English, including over 20 elementary school students and five junior high school students.

Classes are held every Monday and Wednesday from 3:00 PM to 6:00 PM WIB, with elementary students attending from 3:00 to 4:25 PM and junior high students from 4:30 to 6:00 PM.

Lesson Materials The lesson materials are tailored to daily conversational needs, topic by topic. For example, when discussing the home, all household items are listed in English, and students must memorize the vocabulary. They are also required to construct sentences and read them aloud to improve their pronunciation.

This program helps prepare the younger generation to become guides capable of assisting foreign tourists.

Ulos Hutaraja Village, located within the Toba Caldera Geopark, has been designated a global tourist destination. President Jokowi has even designated Lake Toba as a Super Priority Destination. Therefore, improving local skills, especially English proficiency, is crucial.

The motivation to learn English must be boosted as the world becomes increasingly interconnected. Without proper education, children risk falling behind in terms of communication and access to information, which could lead to a lack of confidence.

Teaching English to children here is a strategic move to enhance critical thinking, competitiveness, and creativity. These skills are essential for handling the demands of a globalized world, especially in a tourism-focused area.

Challenges The main challenges faced include a lack of respect for time and lessons among the children. Despite the free initial classes, many parents were not supportive of their children's learning.

Nevertheless, Damayanti remains committed to maintaining the schedule and continues to engage with parents about the benefits the children have experienced and how the skills can be useful in life.

Limited resources such as books and teaching aids also impact the learning process. However, the core challenge remains the lack of appreciation for education.

Damayanti believes that if children have access to quality education, particularly English skills, they will be able to promote their local tourism industry and even pursue better job opportunities abroad.

This program aligns with the SDGs Goal 4: Quality Education, and Damayanti is committed to continuing it. She aspires to have a dedicated building for teaching children, as the current space belongs to a relative. Additionally, she hopes to establish a learning center in Girsang 1, where she first began teaching English to children.

Amazing Journey: Four Days Three Nights Explore Lake Toba

  


NINNA.ID
-Lake Toba offers breathtaking scenery, the warmth of the local people, and the authentic richness of Batak culture. Lake Toba is more than just its vast and serene waters; it is a treasure trove of natural and cultural wonders. Among its many hidden riches is the diverse array of plant life that thrives around the lake.

Spanning across seven regencies—Simalungun, Samosir, Toba, Tapanuli Utara, Karo, Dairi, and Humbang Hasundutan—Lake Toba offers endless opportunities for exploration.

During your visit, you can focus on discovering the beauty of four regencies: Simalungun, Samosir, Dairi, and Toba, each offering unique experiences and landscapes.

Day 1:

  1. Pick up from Kualanamu Airport using Trans Highway Road
  2. Sidamanik Tea Garden (Simalungun Regency)
    • Explore the tea plantations
    • Have lunch and enjoy tea and coffee at the café around
  3. Bukit Simarjarunjung (Simarjarunjung Hill)
    • Panoramic views of Lake Toba from 1,300 meters above sea level.
  4. Tigaras Harbour
    • Starting point for the ferry to Samosir Island.
  5. Lake Toba Ferry Crossing
    • From Tigaras Harbour to Simanindo Harbour on Samosir Island.
  6. SiRulo Homestay
    • A homestay in Lumban Suhi-Suhi Village, Samosir Regency, by the lakeside.

Day 2:

  1. Tano Ponggol Bridge
    • Historic bridge connecting Sumatra to Samosir Island.
  2. Bukit Burung (Bird Hill)
    • Scenic spot near plantations with fantastic views.
  3. Avocado Plantation and Other Plantations
    • Explore avocado and other crops grown in Samosir.
  4. Bukit Holbung
    • Rolling green hills with panoramic views of Lake Toba.
  5. Aek Rangat Hot Springs
    • A relaxing natural hot spring in Pangururan.
[caption id="attachment_33463" align="alignnone" width="2560"]AEK RANGAT PANGURAN Relaxing natural hot spring in Pangururan.[/caption]

Day 3:

  1. Nai Sogop Waterfall
    • Multi-tiered waterfall surrounded by tropical rainforest.
  2. Barbeque in SiRulo Homestay
[caption id="attachment_33464" align="alignnone" width="2560"]Lunch in Batak House Lunch in Batak House[/caption]

Day 4:

  1. Tomok Market
  2. Tomok Harbour back to Kualanamu Airport
[caption id="attachment_32894" align="alignnone" width="2560"]Makan di Rumah Batak Dining at a Batak house is one of the fascinating experiences to enjoy while at Lake Toba.[/caption][caption id="attachment_33465" align="alignnone" width="1280"]JABU SIRULO Barbeque in SiRulo Homestay[/caption]

A Memorable Journey Group from Malaysia

This itinerary has previously been carried out by a group from Malaysia. It was an early Monday morning when a group of travelers from Selangor, Malaysia, arrived at Kualanamu Airport. Drivers warmly greeted them.

From Kualanamu, the group embarked on a scenic drive to the Sidamanik Tea Gardens in Simalungun Regency. The lush green tea plantations, rich with history dating back to the Dutch colonial era, provided a serene backdrop for their lunch at the Sidamanik Tea Garden. Sipping on the locally renowned Tobasari and Butong teas, they savored both the flavors and the views.

Their journey continued with a stop at the breathtaking Simarjarunjung Hill. At an elevation of 1,300 meters, the panoramic views of Lake Toba left everyone in awe. As the sun began to set, they visited the vibrant Saribudolok Orange Plantation, marveling at the endless rows of fruit-laden trees.

 

The day concluded with a ferry ride across the tranquil waters of Lake Toba, from Tigaras Harbour to Simanindo Harbour. Upon arrival, the group settled into SiRulo Homestay, a charming lakeside retreat in Samosir Regency.

A delicious dinner and a briefing for the next day's activities brought the day to a close, leaving the group free to relax and enjoy the peaceful surroundings.

Exploring the Beauty of Samosir Island

Tuesday began with a delicious breakfast at SiRulo Homestay. The day’s itinerary was filled with exploration, starting with a visit to Tano Ponggol Bridge, the unique land link between Sumatra and Samosir Island.

They then ventured to Bukit Burung and other plantations, marveling at the natural beauty and agricultural abundance of the region.

Lunch was a special treat in traditional Batak house near Bukit Holbung in Jabu Siamun. The group spent the afternoon hiking the rolling green hills of Bukit Holbung, taking in breathtaking views of Lake Toba and its surroundings.

To cap off the day, the group relaxed at the Aek Rangat hot springs, soaking in the warm, mineral-rich waters and reflecting on the beauty of Samosir.

Discovering Hidden Gems

Wednesday’s adventure took the group to the secluded Nai Sogop Waterfall. After a scenic trek through dense tropical forests, they were greeted by the cascading waters and tranquil pools of this hidden gem.

[caption id="attachment_33466" align="alignnone" width="1280"]Nai Sogop Take picture with view around hill to Nai Sogop Waterfall[/caption]

They enjoyed a picnic-style lunch amidst the natural beauty, followed by a visit to Simbolon Village. The evening ended with a delightful barbecue at SiRulo Homestay, where the group shared stories and laughter under the starry sky.

A Farewell to Remember

On their final day, Thursday, the travelers bid farewell to the cozy SiRulo Homestay. Before leaving Samosir, they stopped by the Tomok Market to shop for souvenirs, taking home mementos of their unforgettable journey.

A ferry ride brought them back to Parapat, and from there, they made their way to Kualanamu Airport via the Siantar Toll Road, cherishing the memories of their time in Lake Toba.

The journey to Lake Toba was more than just a trip—it was a celebration of nature, culture, and fellowship. Each destination left an indelible mark on their hearts, making this an adventure they would treasure forever.

Writer/Editor: Damayanti Sinaga

Perjalanan Menakjubkan Tamu dari Malaysia ke Danau Toba: Dari Kuala Lumpur ke Pesona Sumatra Utara

Perjalanan tamu kami dari Malaysia bernama Zali ke Danau Toba, berlangsung selama empat hari dari 19 November hingga 22 November 2024. Perjalanannya juga direkam dalam channel videonya.

Dengan latar belakang keindahan alam, budaya yang kaya, dan keramahan penduduk lokal, perjalanan ini menawarkan pengalaman yang tak terlupakan.

Hari 1: Dari Kualanamu ke Kebun Teh Sidamanik, Simarjarunjung

Pada hari pertama, Bang Zali tiba di Bandara Kualanamu dan dijemput oleh supir lokal, Abednego. Setelah menikmati makanan halal di sekitar bandara, perjalanan berlanjut menuju Kebun Teh Sidamanik di Kabupaten Simalungun. Tempat ini terkenal sebagai salah satu perkebunan teh terbesar di Indonesia dengan pemandangan hijau yang memukau.

Di perjalanan, Bang Zali sempat singgah di Bukit Simarjarunjung, yang menawarkan pemandangan spektakuler Danau Toba dari ketinggian 1.300 meter di atas permukaan laut. Hari ditutup dengan makan malam dan briefing singkat tentang kegiatan esok hari.

Hari 2: Menjelajahi Samosir dan Budaya Batak

Bang Zali memulai hari dengan sarapan di SiRulo Homestay, penginapan yang nyaman dengan pemandangan langsung ke Danau Toba. Agenda hari ini mencakup kunjungan ke Kampung Ulos Hutaraja, tempat pengrajin lokal memproduksi kain ulos yang indah, simbol budaya Batak.

Perjalanan dilanjutkan ke Tano Ponggol Bridge, jembatan penghubung Sumatra dengan Pulau Samosir, dan eksplorasi ke Bukit Sibea-bea yang terkenal dengan panorama perbukitan dan patung Kristus. Hari kedua diakhiri dengan petualangan ke Air Terjun Nai Sogop, destinasi tersembunyi yang mempesona dengan air terjun bertingkat dan kolam alami yang jernih.

Hari 3: Bukit Holbung 

Hari ketiga membawa Bang Zali ke Bukit Holbung, yang dikenal dengan hamparan bukit hijau bergelombang dan pemandangan danau yang menakjubkan. Setelah makan siang di sekitar Bukit Holbung, perjalanan berlanjut ke Aek Rangat Pangururan, sumber air panas alami di Samosir. Malam hari diisi dengan barbeque santai di SiRulo Homestay, memberikan waktu untuk bercengkerama atau beristirahat.


Hari 4: Menutup Perjalanan dengan Lintas Danau

Hari terakhir dimulai dengan menyeberang dari Pelabuhan Tomok di Samosir menuju Parapat dengan kapal feri. Perjalanan dilanjutkan ke Bandara Kualanamu melalui jalur tol. Meskipun singkat, perjalanan ini penuh dengan pengalaman yang memperkaya jiwa.

Kenangan yang Berharga

Perjalanan Bang Zali ke Danau Toba adalah contoh sempurna bagaimana alam, budaya, dan tradisi dapat menciptakan petualangan yang tak terlupakan. Danau Toba tidak hanya menawarkan keindahan pemandangan, tetapi juga kehangatan masyarakat lokal dan kekayaan budaya Batak yang autentik.

Bagi Anda yang ingin mengikuti jejak Bang Zali, Danau Tobamenanti dengan segala pesonanya!

Hubungi kami di nomor Whatsapp 085297732855

Google Maps

https://g.page/r/CYq2M0iYcNQ2EAI/

Website

https://easygotolaketoba.com

 Whatsapp

https://wa.me/6285297732855?text=Hallo Damayanti..."

 

 

Meeting Solo Female Travelers Around Lake Toba

    Samosir, NINNA.ID -One of my biggest motivations for becoming a tour guide was simple: I wanted to have friends from different parts of ...